Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 08 April 2018

Pada Jam Makan Siang

Siang itu, matahari bersinar di petala langit. Teriknya terasa seperti hembusan bara api yang membara hebat membakar sudut kota. Ini adalah saat jam makan siang. Adit bersama Alena sedang berada di salah satu makanan cepat saji di dekat tempat mereka bekerja, meluangkan diri untuk sekedar rehat makan siang selepas menemui klien mereka.

Adit dan  Alena adalah rekan kerja. Mereka berdua cukup akrab dan selalu saja menghabiskan waktu dengan canda tawa selagi beraktifitas. Rekan-rekannya tidak pernah terusik dengan gaduhnya mereka. Justru mereka merasa terhibur, ada dua insan yang senantiasa menjadi pelipur penat. Akan tetapi, mereka pun terheran-heran, bwgaimana bisa mereka seakrab itu, mengingat Adit baru saja beberapa bulan ini tergabun dalam tim kerja.

Alena, gadis mungil nan manis, berkulit putih susu, berambut hitam panjang lurus sebahu, dan... aneh. Adit tidak pernah sekalipun melihat Alena kecuali dalam keadaan tersenyum, bahkan tertawa. Entah bagaimana hidup yang dijalani Alena, seakan dia tidak memiliki cukup waktu untuk bersedih. Adit pernah sesekali menanyakan kepada Zahra, orang yang paling dekat dengan Alena di tempat kerja mereka, apakah dia pernah melihat Alena dalam keadaan selain tersenyum.

Jawabnya adalah pernah. Sekali. Penyebabnya sama seperti sebagaimana kebanyakan manusia yang memiliki hati, yaitu urusan asmara. Namum Zahra tidak berkenan menceritakan terkait hal tersebut karena tidak ingin merusak kepercayaan temannya sendiri, sementara bukanlah tipikal Adit bila memaksa seseorang hanya demi memenuhi rasa penasarannya.

"Makan di sini atau di bawa pulang?" tanya ramah seorang pelayan tempat makan tersebut di balik meja kasirnya.

Alena yang baru saja memesan sebuah paket makanan pun menghibahkan pertanyaan tersebut kepada Adit, "Sebaiknya makan di sini atau dibungkus, ya?" tapi, belum juga Adit menjawab, Alena sudah mengambil keputusan sepihak, "Makan di sini saja deh, Mbak."

"Baik, silahkan ditunggu pesanannya." kata pelayan tersebut dengan senyum yang memanjakan hati. Alena pun membalas senyuman itu, sebelum akhirnya pelayan tersebut bersegera menyajikan pesanan mereka.

Adit mengernyitkan dahinya, lalu dia menengok ke arah Alena. "Bagaimana, sih, tanya ke orang lain, malah dia sendiri yang jawab!"

Alena membalas, "Eh, kalau di bawa ke kantor, nanti yang lain pada minta!" jelasnya. "Dasar!"

"Aku tahu caranya supaya yang lain tidak minta." ujar Adit, sembari menunggu pesanan mereka tersaji.

Alena penasaran, "Bagaimana?"

"Kita kencingin saja makanannya." jawab Adit melucu.

Alena pun sontak tertawa, kemudian memukul keras lengan kiri Adit, "Anjiirr! Jorok, ah, Dit! Bedoh! Hahaha."

"Jorok apanya, sih? Kencing sendiri juga." balas Adit sambil tertawa kecil. Alena terus saja tertawa sambil memukul kembali lengan Adit.

Makanan yang mereka pesan pun tiba. Dengan menenteng nampan, Adit berjalan menuju salah satu tempat duduk di bagian luar, bersama Alena yang berada di samping kirinya. Sekalipun cukup teduh di bawah payung, sisa-sisa terikan matahari pun masih terasa melalui angin yang berlalu-lalang menerpa badan. Setelah meletakkan makanan di atas meja, sambil duduk, Adit langsung membuka jaket varsity miliknya. Jaket serupa dengan yang dikenakan Alena siang itu, dengan warna yang sama pula, yaitu merah kombinasi putih.

Sambil menikmati hidangan, mereka berdua asyik bertutur cakap dan berbagi cerita. Di sepanjang ceritanya, Alena terus membicarakan tentang pekerjaan, baik itu pekerjaannya yang menumpuk, atasan yang bawel, dan salah satu mantan rekan kerjanya dulu yang suka usil. Adit tidak banyak berkata, dia hanya mencoba menjadi wadah yang kepadanya Alena menaruh keluh.

Cerita Alena teruslah berlanjut, hingga dia berhenti pada butir terakhir nasi yang ada di atas piringnya termakan olehnya. Sebuah pertanyaan dari Adit datang seseaat setelahnya. "Apa kamu pernah patah hati?" tanya Adit.

Seketika Alena mengalihkan pandangannya dari mata Adit, meminum soda di dalam paper cup ukuran sedang miliknya dengan sedotan, dan tidak menjawab. Diamnya membuat Adit berpikir bahwa pertanyaan itu mungkin terlalu menyinggunya, sehingga Adit menghargai keputusan Alena yang memilih untuk diam agar tidak hanyut terbawa angan. Rasa bersalah Adit membuatnya gugup. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukanya selain melihat jam tangan berwarna hitam yang terpasang di tangan kirinya, berharap bahwa sudah waktunya untuk kembali ke kantor dan bekerja. Sayangnya, masih ada banyak sisa waktu untuk mereka berehat.

"Patah hati itu sudah biasa, Dit." kata Alena sambil memutar-mutarkan sedotan di gelas sodanya yang sudah hampir tidak berisi. Akhirnya dia ambil bicara. Tatapannya tetap diletakkan pada gelas tersebut. "Soal asmara sudah bukan levelku lagi. Sudah kebal."

Adit hanya mengangguk-angguk. Dipandangnya, Alena bergegas mengurung rindang senyumnya itu. Ini kali pertama Adit melihat Alena berparas sendu. "Karena sebelumnya aku pernah merasakan patah hati terhebat." kata Alena, melanjutkan. "Sekitar dua tahun yang lalu. Cukup menyiksa juga. Entah berapa lama untuk bisa sembuh dari luka itu."

"Pasti itu sakit banget." sahut Adit. "Bagaimana bisa sampai lukanya separah itu?"

"Panjang ceritanya." jawab Alena datar, seakan enggan mengulas masa lalunya. "Yang jelas, semenjak itu, malam-malamku terasa berat, sampai akhirnya aku bisa menemui bahagiaku kembali."

"Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita." kata Adit. "Toh kamu sudah berdamai dengan waktu. Menceritakannya kepadaku hanya akan membawamu kembali ke masa yang sudah terlewati."

Kemudian Adit memandangi Alena yang sedang murung, melepaskan pandangannya entah ke mana. Wajah putih bersihnya itu nampak tidak seelok biasanya. Adit tidak berbicara, seakan memberikan waktu sejenak kepada Alena untuk menikmati piluhnya. Namun, Adit ambil bicara, melayangkan sebuah petuah, secara tiba-tiba, "Cintailah siapapun yang kamu suka, karena sesungguhnya kamu akan berpisah."

Alena langsung menatap Adit. "Hah?" katanya.

"Belum pernah dengar, ya?" tanya Adit. "Itu adalah pesan malaikat Jibril kepada Muhammad, juga kita, umatnya."

"Aku tahu." jawab Alena. "Itu dulu. Sebelum aku akhirnya menyadari bahwa aku sebodoh itu. Sekarang pun aku sudah bahagia." lanjut Alena, tertawa kecil.

Adit bertanya, "Bagaimana bisa kamu pada akhirnya menemukan bahagiamu kembali?"

"Aku sadar bahwa bahagia bukan untuk dinanti, tapi digapai." jawabnya. "Ketika aku mencoba bahagia, apapun yang ada di sekitarku seakan ikut merasa bahagia, hingga pada akhirnya... mereka membahagiakanku. Aku pun berusaha untuk selalu bahagia."

Mendengar itu, Adit merasa telah menemukan sebab di balik senyum Alena yang selama ini terajut rapih. Cukup berat, namum usahanya telah mencipta hasil. Bukan sembarang jiwa yang sanggup membentangkan bendera ketabahan melawan sapuan badai cobaan di atas puncak perasaan.

Sepintas, Adit teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu, saat di mana dia merasakan patah hati terhebatnya. Banyak kerugian yang dialami oleh Adit, seperti tidak bisa fokus dengan skripsinya, pola makan yang tidak teratur, sering merasakan kesepian, dan lainnya. Adit bertekad untuk bisa lepas dari hal tersebut dengan cara menghabiskan waktu bersama teman-temannya, banyak membaca, olahraga, dan sesekali mencari teman menonton sebagai pelariannya.

"Kadang menyebalkan juga..." lanjut Alena membuyarkan lamunan Adit.

"Maksudnya?" Adit, heran.

Alena kembali diam, tidak mau melanjutkan pembicaraan. Tapi setelah itu, "Jadi selama ini, kita kan hampir setiap hari 'cekakak-cekikikan' seperti orang gila tuh..." kata Alena. Lalu entah mengapa dia tidak meneruskan  kembali pembicaraannya.

Adit mencoba memancing agar Alena kembali meneruskan kalimatnya, "Lalu?"

Alena pun melanjutkannya, "Nah... gara-gara itu, orang-orang tuh mengiranya sudah beda."

"Beda bagaimana?" tanya Adit sambil mengernyitkan dahinya.

"Emang kamu sekarang menganggap aku siapanya kamu, Dit?" Alena balik bertanya.

Adit mencoba mengikuti alur Alena, "Teman kerja." jawabnya tanpa beban. "Lalu?"

"Aku hanya khawatir anggapan kamu ke aku akan sama seperti apa yang ada dipikiran orang-orang."

Adit semakin penasaran. "Memangnya apa, sih, yang orang-orang pikirkan?" tanyanya. Alena tidak menjawab. Setelah sekian detik tidak kunjung mendapat jawaban, Adit melanjutkan, "Lena kok malah diam begini!"

Alena mulai memberanikan diri untuk menjawab, "Mereka tuh mengira bahwa diam-diam kita saling menaruh hati." Adit pun tersentak kaget. "Bahkan Mas Yongki pernah meyakinkan aku kalau kamu orang yang tepat buat aku."

"Sok tahu!"

"Sudahlah kalau memang tidak begitu, biarkan saja." ujar Alena menenangkan Adit yang menyeru. "Toh kita juga biasa saja, kan."

Adit meletakkan kedua tangannya di atas meja, menyelipkan jemari-jemarinya satu sama lain, lalu menggenggamnya, kepalanya menunduk, dan menghembuskan satu nafas panjang. Dia mulai gelisah menjaga tingkah.

"Aku masih anggap kamu teman, kok, Dit." ucap Alena. "Tidak lebih."

"Aku juga berharap seperti itu."

Kecanggungan menahan mereka untuk saling berujar.

"Sudahlah, lupaka saja." kata Alena.

"Tapi ada benarnya juga apa kata mereka."

"Benar apa?"

"Kita seharusnya lebih tau batas."

"Kenapa begitu?"

"Aku jadi sadar kalau seperti ini terus, pasti salah satu di antara kita akan ada yang menaruh hati."

"Aku biasa saja, kok, Dit."

"Itu kamu." sahut Adit. "Entah bagaimana denganku nanti."

Mereka berdua saling diam.

"Kalau tahu begini, sebaiknya tadi kita kencingin saja makanannya, ya, Dit." kata Alena sambil tertawa, memecah keheningan.

"Untunglah kita tidak kencingin makanannya." balas Adit, datar, tapi terdengar menggelikan bagi Alena, sehingga membuatnya tambah tertawa. "Aku jadi bisa antisipasi mulai sekarang, sebelum terlambat aku menaruh hati."

Pengutaraan Adit terdengar cukup serius, sehingga tawa Alena perlahan memudar. Alena melihat ke arah jam perak yang melingkar di tangan kirinya. "Balik, yuk." katanya.

"Ayuk."


Dalam perjalanan menuju parkiran motor, raut wajah Adit menjadi datar dan serius. Melihat itu, Alena membingkiskan satu senyuman manis kepada Adit. Senyuman termanis yang pernah Adit lihat selama dia mengenal sosok Alena, yang manis dan murah senyum. Adit membalas senyuman itu dengan rasa malu. Seketika itu tangan kiri Alena menggapai pundak kiri Adit dan merangkulnya.

"Kamu itu tidak pantas berwajah serius!" kata Alena, sambil mengacak-acak rambut Adit.

"Awas saja kalau aku sampai terbawa perasaan." jawab Adit. "Tanggung jawab."

Alena hanya tertawa mendengarnya. Sebenarnya Adit mulai takut kalau suatu saat dia akan memasrahkan hati yang tak  bisa sembarangan dia beri kepada Alena. Namun dia tidak ingin menjauh dari Alena.

Satu tanya dalam benak Adit: apakah Alena juga merasakan ketakutan yang sama?

Sepertinya tidak.



NB: Cerita fiksi ini adalah buah karangan yang terinspirasi dari kisah sebenarnya.