Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Selasa, 06 Maret 2018

Disonansi Hati

Adit menggesek-gesekkan jempol kanannya di layar smartphone miliknya, mencari riwayat obrolan dia bersama Putri di sebuah aplikasi chat. Adit menyadari bahwa riwayat obrolannya bersama Putri tertumpuk oleh obrolan-obrolan yang lain, baik obrolan dengan rekan kerjanya, teman-temannya, atau pun grup komunitas seprofesinya.

Adit dan Putri masih menjalin komunikasi, namun tidak dengan cara seperti yang mereka lakukan dulu. Dulu mereka sering bertemu, tertawa bersama, saling curhat atau berbagi ilmu satu sama lain. Putri selalu memarahi Adit karena Adit jarang sekali menatap mata Putri saat mereka sedang berbincang-bincang. Tapi itu dulu. Sekarang, meski mereka tinggal di satu kota, mereka tidak pernah lagi bertemu. Mereka berkomunikasi hanya melalui media sosial.

Dan jarang sekali mereka lakukan.

Tak berapa lama, akhirnya Adit menemukan riwayat obrolannya dengan Putri. Obrolan yang terakhir dilakukan pada pertengahan bulan lalu. Adit mulai menulis sebuah pesan. "Putri?" sapa Adit. "Sibuk gak?" tulisnya lagi. Kirim.

Pesan pun terkirim. Satu-dua menit, tidak ada jawaban. Dua-tiga jam, masih tidak ada balasan juga. Dibaca pun tidak. Ke mana kah Putri? Pikir Adit yang menanti sebuah balasan dengan perasaan gelisah.

Akhirnya Putri pun membalas pesan Adit. "Halo, Adit." balasnya. Putri menambahkan, "Ini lagi jaga. Ada apa ya? Tumben sekali."

Tanpa banyak kata, dengan segera, Adit pun membalas, "Nanti jam 8 malam aku telepon kamu."

"Loh, kok? Tumben, Dit?" Putri terheran. Namun Adit tidak membalas pertanyaan Putri. Merasa pertanyaannya tak kunjung dibalas, Putri pun kembali menuliskan pesan, "Sampai nanti, ya."

Obrolan mereka pun berakhir.

Pukul 7.58 malam, Adit sudah bersiaga untuk memulai obrolan suara dengan Putri. Adit mengotak-atik layar smartphone miliknya agar tetap dalam keadaan siaga dan bersabar hingga angka pada jam di layar smartphone miliknya tepat di angka 8.00. Bukan 7.59, bukan juga 8.01, untuk memulai melakukan panggilan suara dengan Putri. Begitulah Adit. Perfeksionis. Sama seperti Putri.

Akhirnya, waktu tepat menunjukkan angka 8.00. Dengan segera, Adit menekan tombol panggilan suara. Hanya butuh dua-tiga kali deringan saja, Putri sudah menjawab panggilan suara Adit. Sepertinya Putri juga sedang menanti panggilan suara dari Adit.

Hening.

Setelah berapa detik saling diam sejak Putri menerima panggilan Adit, dia pun akhirnya memutuskan untuk menyapa Adit lebih dulu. "Moshi moshi." sapa Putri, yang berarti 'Halo' dalam bahasa Jepang.

"Iya, halo." jawab Adit datar.

Suasana kembali hening. Lalu, Putri  kembali memulai pembicaraan, "Sebelum nelpon, kamu tadi pasti nungguin menitnya ya?"

"Kok kamu bisa tau?"

Putri terdiam, tidak ambil bicara. Tak lama kemudian, dia menjawab, "Kan aku sudah pernah bilang..." katanya. "... Kita ini sama." lanjutnya.

Putri dan Adit memang punya banyak kesamaan. Mereka pun saling mengakui, bahwa Putri adalah versi wanita dari Adit, sedangkan Adit adalah versi pria dari Putri. Mereka merasa seperti punya jalan hidup yang sama, di tempat yang berbeda, hingga akhirnya mereka dipertemukan. Sebagaimana jalan cerita pada sebuah film Korea yang pernah Putri tonton. Begitulah kata Putri kepada Adit. Dulu.

"Putri..." kata Adit. Lalu Adit merebahkan diri di kasurnya. "Aku sedang jatuh hati sama seorang wanita." lanjutnya.

Mendengar itu, Putri tertawa kecil, seakan itu terdengar menggelikan bagi Putri. "Akhirnya, ya, Dit." kata Putri, senang.

"Eh, sudah lama!" seru Adit. "Sedari SMA."

Langsung saja tawa Putri tiba-tiba menghilang. "Loh? Iya kah? Kamu mana ada cerita?" katanya, kaget. Sebelumnya Putri mengira bahwa apa-apa yang ada di masa lalu Adit, sudah diceritakan semua kepadanya.

"Aku memang sengaja tidak menceritakan hal ini kepadamu." kata Adit. "Aku kira perasaan itu sudah menghilang, sejak... aku mengenalmu."

Putri tak ambil bicara. "Siapa namanya?" tanya Putri.

Adit menjawab, "Rani."

"Nama yang bagus. Pasti orangnya cantik. Iya, gak?" tebak Putri. "Emangnya apa sih nilai jual dia, sampai seorang Adit bisa jatuh hati sama dia selama itu? It's been going on for at least 8 years, right?"

"Dia cantik. Teruuusss..." pembicaraan Adit seketika terhenti. Dia sedang memikirkan apa lagi yang membuatnya jatuh hati kepada Rani.

"Masak iya cantik aja sih, Dit?" tanya Putri, memastikan. Sedikit kesal juga. "Otaknya encer, kek. Pribadinya bagus, kek. Lucu, kek. Atau apa lah, gitu, Dit? Itu kan selera kamu banget, toh?"

"Kamu mencoba mendeskripsikan dirimu sendiri, Put? Haha." canda Adit. "Nah itu, aku sendiri gak tau apa yang membuatku tertarik sama dia, selain karena dia cantik." jawab Adit, lirih.

Adit dan Putri terdiam sekian detik.

Adit melanjutkan. "She's out of my league, anyway."

"Ya ampuuuun. Apa yang kamu harapkan dari seorang cewek yang mengandalkan fisiknya saja sih, Dit? Itu kan cuma sesaat? Ntar kalo dia tua, apa iya kamu masih pada rasa yang sama?" kata Putri menasehati Adit dengan nada kesal. Setelah itu mereka kembali saling diam. Adit mencerna kembali apa yang dikatakan oleh Putri. "Kirimin fotonya." lanjut Putri.

"Aku gak simpan." jawab Adit. "Lagipula dia gak secantik itu. Pasti nanti kamu bakal ngatain aku lagi."

"Kalau gitu cari cewek yang lebih dari sekedar fisiknya dong, Dit. Kamu itu sudah besar! Cari wanita yang bisa dinikahin! Cari kriterianya yang butuh banyak pertimbangan dong! Masak iya masih dengan selera anak SMA?"

"Maksudmu, yang kayak kamu, gitu? Beauty, brain, and behaviour? Haha."

"Sekalian aja nikahin tuh Miss Universe."

Adit dan Putri pun tertawa garing bersama. Seakan mereka menyadari bahwa dunia seluruhnya berjalan cukup serius dan dengan kejamnya merampas selera humor mereka masing-masing, selepas mereka berdua berpisah.

"Dia sudah punya pacar?" tanya Putri.

"Sudah." jawab Adit. "Temenku sendiri."

"Sudah berapa lama?"

"Gak tau, ya, Putri. Setahun lebih mungkin."

Putri semakin berusaha menggali lebih dalam, "Menurutmu, apa yang jadi nilai jual dari pacarnya itu?" tanyanya.

"Gak tau juga sih, Putri. Tapi aku pernah tanya langsung sama dia, apa yang bikin dia suka sama pacarnya ini."

"Terus, dia bilang apa?"

Adit membeberkan, "Katanya, kalau sama dia tuh nyambung, sama-sama suka musik, agamanya baik, terus sabar." jelas Adit. "Ya aku ketawa aja dengernya Putri."

"Loh? Kenapa ketawa?"

"He was my roommate when we were college students. Anggapan dia salah tentang pacarnya ini, tapi dia yakin pacarnya seperti itu. Ya aku gak bisa maksa dia percaya juga dong." jelas Adit. "Nah, aku juga pernah nanya ke dia, kayak gimana sih laki-laki yang dia inginkan?"

Putri mulai antusias, "Whoaaa, gimana? Gimana?"

Adit mulai menjelaskan, "Dia tuh pengen yang badannya tinggi, macho, bla bla bla."

Putri mulai tertawa, "Fisik semua yang dia pengen, ya, hahaha." kata Putri. "Kalo ngebet dapet dia, operasi pelastik sama ikut pesugihan sana, gih."

Adit pun tertawa lepas mendengar perkataan Putri. Namun ttiba-tiba, Adit mengehentikan tawanya. Diam. Dia berdehem sejenak, bersiap untuk menyampaikan suatu hal kepada Putri. "Aku..." katanya. "Aku... kangen kamu, Putri."

Putri terdiam cukup lama. Ucapan itu terlalu dalam untuk disampaikan. Adit tidak ingin mengatakannya lagi, karena dia yakin, Putri mendengar ucapannya. Tidak seharusnya Adit mengucapkan hal itu kepada seseorang yang telah menjadi milik orang lain.

Merasa rindunya tidak teebalas, Adit pun berusaha mengalihakannya, "Ya sudah, selamat ti..." namun, belum juga Adit menyelesaikan kalimat ucapan selamat tidurnya itu kepada Putri, tiba-tiba...

"Aku juga kangen." jawab Putri, dibarengi dengan senyum sebagai pemanis rindunya. "Kangen banget aku, Dit." tegas Putri.

Adit dan Putri saat itu sama-sama sedang tersenyum tanpa saling mengetahui satu sama lain.

"Baik-baik ya sama pacarmu." Adit berpesan kepada Putri. "Pastikan dia tidak menyakiti hati kamu, Put, atau dia akan merasakan sebuah kaki mendarat laju di kepalanya haha."

Putri melepas tawanya dengan kencang, "Hahaha, mentang-mentang nih anak." katanya. "Pastikan juga si cantikmu itu tidak menyakiti hatimu ya, Dit, atau dia bakal merasakan sebuah jarum suntik menembus di matanya."

Kini giliran Adit yang tertawa lepas. "Haha, anjir! Tetep thriller parah nih anak." katanya. Dengan sisa tawanya, Adit melanjutkan, "Terimakasih, ya."

"Aku mohon tinggalin dia, Dit." sahut Putri.

Adit penasaran akan ucapan Putri, "Kenapa?"

"Aku yakin dia bukan orang yang baik buat kamu. Aku yakin dia bakal sering bikin kamu sakit hati." kata Putri. "Bila kamu memang siap untuk sakit hati, maka sakit hatilah pada wanita yang lebih dari sekedar parasnya."

Adit diam.

Putri menambahkan, "Aku berharap agar kamu bisa mendapat pasangan yang menyenangkan hati, bukan yang menambah beban perasaan. Jadi aku mohon, tinggalin dia. Biarkan dia bersama lelaki yang dia pikir baik."

Adit mulai tersentuh dengan kata-kata dari Putri. "Baik, Putri." kata Adit. Sambil berbaring, kedua matanya memandang ke atas dengan tatapan kosong. "Akan kupertimbangkan kembali. Terimakasih."

Suasana kembali hening.

"Selamat tidur, Put." kata Adit, memecah suasana.

"Iya." jawab Putri. "Terimakasih sudah menelepon." lanjutnya.

"Bye."

Adit menutup teleponnya. Setelah itu, Adit benar-benar memikirkan perkataan Putri. Dalam lamunannya, Adit berpikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Putri. Mengapa dia rela melabuhkan hatinya kepada seseorang sebatas pandangan fisiknya? Bukankah itu bersifat sesaat? Tapi, bila memang itu sesaat, mengapa ini bertahan hingga selama itu? Apakah bertahan hanya karena rasa itu tidak pernah dirasakan seutuhnya?

Tak lama kemudiam, Adit menerima sebuah pesan dari Putri.

"Aku benci saat kamu ucapkan rindu. Lain kali tidak usah kamu ucapkan itu. Cukup hati kita saja yang saling mengerti." tulis Putri.

Adit tersenyum senang setelah membaca pesan tersebut. Dengan senyum itu, Adit pun membalas, "Maaf."


NB: Cerita fiksi ini adalah buah karangan yang terinspirasi dari kisah sebenarnya.