Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Senin, 20 Februari 2017

Menyelami Hati Melalui Tulisan Tangan (1)

Sembari memasukkan handphone dan cerminnya ke dalam tas, Laila melihat buku milik Adit yang tertinggal di atas meja cafe, tempat di mana Adit, Jamal, Laila, Fitri, dan Putri sedang hangout sore itu. Laila mengambil buku itu dan membawa buku itu dan bergegas menyusul Adit dan yang lainnya menuju parkiran.

"Bukumu ketinggalan nih, Dit." kata Laila kepada Adit saat berada di dalam mobil sambil menyodorkan buku tersebut kepadanya. Buku itu berjudul Psikologi Abnormal, salah satu buku pengantar mata kuliah Adit.

Adit mengambilnya dari tangan Laila. "Makasih ya, Lel." ujarnya, datar.

"Kasian banget, Dit, cewek yang bakal sama kamu ntar." Jamal, yang saat itu sedang duduk di bangku kemudi, menyeletuk. Jamal sudah seperti supir pribadi bagi mereka, karena di antara mereka berlima, hanya Jamal lah yang bisa mengemudi. Sedangkan mobil yang mereka pakai adalah mobil pribadi Laila, hadiah ulang tahun dari orangtuanya. "Sama bukunya sendiri aja lupa, apalagi sama ceweknya." lanjut Jamal sambil berusaha mengeluarkan mobil dari parkiran. Fitri, yang duduk di sebelah Jamal, tertawa kecil. Jamal memang paling suka dengan humor yang menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan persoalan asmara, apalagi tentang seks. Seolah-olah otak Jamal terletak di selangkangan.

"Kayaknya menarik tuh buku, Dit?" tanya Laila, mengabaikan Jamal. "Ceritain sedikit dong tentang buku itu."

Adit yang posisi duduknya berada di antara Laila dan Putri pun menjelaskan, "Lumayan menarik, sih. Garis besarnya, buku ini tuh ngejelasin tentang beberapa perilaku abnormal, mulai dari definisinya, faktor penyebabnya, kumpulan hasil-hasil penelitian berkaitan, cara penanganannya, terus... macem-macem deh."

Laila mengangguk-angguk. Dia sendiri bingung tentang sebuah perilaku yang bagaimana yang dikatakan Abnormal, namun dia tidak ingin menanyakan hal itu, karena kemungkinan besar akan menjadi obrolan yang cukup membosankan. "Eh, psikologi itu bisa baca kepribadian orang lewat garis tangan orang juga, ya?" tanya Laila, penasaran.

Laila adalah satu diantara jutaan orang yang terlalu jauh menilai apa itu psikologi. Kebanyakan orang awam menilai bahwa psikologi itu semacam ilmu magis yang bisa membaca pikiran orang. Adit juga termasuk orang yang seperti itu dulunya, sebelum dia memutuskan untuk mengambil jurusan pendidikan ilmu psikologi. Bahkan dia mengucap kata psikologi dengan ejaan pe-si-ko-lo-gi. Mungkin Adit saat itu merasa bahwa masuk ke dalam fakultas psikologi sama halnya masuk ke sekolah sihir Hogwarts.

"Kalau membaca tulisan tangan orang, bisa." jawab Adit.

Jamal menyahut, "Baca doang mah anak SD juga bisa, Dit."

"Maksudnya analisa, ding." Adit, membenarkan perkataannya. "Jadi dari tulisan tangan itu kita bisa analisa kepribadian seseorang. Kedengerannya mungkin agak ajaib juga, kan, bisa baca kepribadian orang lewat tulisan tangan doang? Tapi emang bisa, dan ilmiah. Meskipun akurasinya sekitar 75 persen lah."

Fitri menoleh ke belakang, ke arah Adit. "Bacain tulisan tangan Laila tuh, Dit. Dia kan orangnya gesrek." katanya.

"Beneran bisa?" tanya Laila kepada Adit. Perkataannya terdengar seperti tertarik untuk dianalisa tulisan tangannya, sekaligus ingin membuktikan apakah benar lewat tulisan tangan dapat menggambarkan kepribadian seseorang.

"Baru blajar, sih. Belum dicoba." jawab Adit. "Kalo mau nyoba, ya ayok. Sekalian mau nyoba praktekin, hehe."

"Oke, nanti ya di rumah."

Selama dalam perjalanan, Putri terlihat diam saja sambil terus melihat ke luar jendela yang berada di sebelah kanannya. Memang, ada kalanya Putri diam saja dan berbicara seperlunya, ada kalanya juga dia cukup ceria dan sulit mengontrol dirinya. Bagi Adit, Laila, Jamal, dan Fitri, itu adalah hal yang biasa dan mereka pun bisa mengerti tentang sifat Putri yang demikian. Oleh sebab itu, Putri merasa bahwa mereka adalah sahabat terbaik yang pernah dimilikinya, sejak menjalani program character building dari kampus yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru. Program itu berjalan selama tujuh hari enam malam, menginap di asrama kampus.

Mereka berlima sudah sampai di rumah Laila, tempat mereka biasa berkumpul sebelum akhirnya berangkat ke tempat tujuan yang sudah direncanakan. Putri sering sekali menginap di rumah Laila, bahkan pernah dia menginap selama seminggu, sampai-sampai Putri sudah diperlakukan seperti anak oleh ayah dan ibunya Laila. Malam itu pun Putri sudah merencanakan bahwa dia akan menginap di sana.

"Jadi gak?" tanya Adit kepada Laila. Laila menjawab jadi. "Yaudah, siapin pulpen dan kertas polos."

Laila mencari pulpen dan kertas di sekitar ruang tamu, namun tidak ketemu. Laila pun pergi ke kamarnya untuk mengambil pulpen dan kertas kosong di sana. Sebelum Laila pergi ke kamarnya, Jamal dan Fitri pamit untuk pulang duluan, karena Fitri harus berada di rumah tidak lebih dari jam 10 malam, atau dia akan dapet omelan dari ayahnya. Sedangkan Jamal adalah orang yang bertanggung jawab mengantarkan Fitri pulang pada saat itu.

Hanya ada Adit dan Putri yang berada di ruang tamu pada saat Laila sedang menuju ke kamarnya untuk mengambil pulpen dan kertas. Suasana hening, hanya terdengar suara obrolan orang-orang sekitar rumah Laila. Adit diam saja, tidak ada yang bisa diajak mengobrol karena Putri sendiri terlihat sedang sibuk dengan handphonenya. Entah bermain game atau sedang mengobrol dengan orang lain via chat.

Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang melangkah tergesa-gesa dari anak tangga rumah Laila. Adit dan Putri secara spontan melihat ke arah tangga. Ternyata suara langkah kaki tersebut adalah suara langkah kaki Laila yang turun dari kamarnya untuk menghampiri Adit dan Putri di ruang tamu dengan membawa kertas dan pulpen, sesuai permintaan Adit.

"Udah, nih." Laila menunjukkan pulpen dan kertas yang dia bawa. "Nulis apa tapi?"

"Bebas." jawab Adit. "Nulisnya minimal sepuluh baris ya."

Laila sedikit terkejut, "Banyak banget? Ini mau analisa tulisan tangan apa bikin cerpen, Pak?"

Dan Adit menanggapi, "Rewel! Buruan tulis!"

Laila pun duduk di lantai dan mulai menulis di meja ruang tamu. Suasana kembali hening. Putri, yang tadi sempat memperhatikan percakapan Adit dan Laila, kembali sibuk dengan handphonenya. Adit memilih untuk membaca buku. Sesekali Laila ngomong sendiri dan mengeluh tanpa ada yang menanggapi. Hingga akhirnya, Laila berhasil menulis bebas sebanyak sepuluh baris.

"Nih!" kata Laila menyodorkan hasil tulisannya ke arah Adit. Kemudian Adit segera menutup buku yang dia baca dan mencoba untuk menganailisa kepribadian Laila melalui tulisan tangannya itu. "Awas kalo sampe salah!" ancam Laila. Adit tidak menanggapi.

Tidak lama kemudian, Adit berbicara. "Eh, sebelumnya, aku minta kamu jujur ya!" katanya. "Kamu ini lagi ada trauma ya sama masa lalu? Kayak... kebayang-bayang gitu sampe sekarang."

Laila mencoba mengingat-ingat kembali masa lalunya, kemudian dia menjawab, "Ada, sih."

Adit melanjutkan, "Selain itu, kamu orangnya kurang optimis, gampang baper, teruusss..." Adit diam sebentar. Kemudian dia melanjutkan, "Agak emosional juga. Bener gak?"

Mendengar pernyataan-pernyataan dari Adit, Laila seperti, "Bener, sih. Aku orangnya agak perasa." katanya. Entah dia memang seperti itu, atau karena secara tidak sadar dia mencocok-cocokan pernyataan Adit.

Hello effect.

Adit mendekatkan wajahnya ke arah telinga Laila dan berbisik, "Dulu kamu korban bullying ya?" tebak Adit.

Laila mendorong Adit menjauh. "Iiih, apa, sih? Sok tau!"

"Ngaku aja, deh, Lel! Janji gak bakal ember, cuma kita bertiga ini juga." Adit, berusaha memancing Laila agar mengaku. Karena Adit tidak ingin proses analisa tulisan tangan hanya sekedar menebak sifat seseorang. Setidaknya dia bisa menggali informasi tentang sebab terbentuknya sebuah perilaku.

"Kok malah mancing curhat? Gak ada... gak ada!" Laila, sewot. "Udah, ah!"

"Yaudah kalo gak mau curhat." kata Adit. Kemudian dia melirik ke arah Putri. Ternyata Putri kedapatan sedang memperhatikan mereka berdua. Putri secepat mungkin mengalihkan pandangannya kembali ke layar handphonenya. Langsung saja, Adit memberikan tawaran, "Putri mau juga kah?"

Putri tersenyum dingin, lalu dia berkata, "Enggak deh. Makasih."

Adit cuma berkata oh sambil mengangguk-angguk. Seperti sudah paham bahwa keadaan Putri memang tidak bisa dipaksa untuk saat ini. Atau bisa jadi, untuk kapanpun.

"Kalo emang gak mau curhat, aku pulang aja deh." kata Adit, sambil merogoh-rogoh saku kanan celananya, dimana dia biasa menyimpan kunci motornya.

Setelah berbasa-basi sedikit, Adit pun akhirnya meninggalkan rumah Laila. Sesuai dengan rencana, Putri memutuskan untuk menginap di rumah Laila malam itu. Tak terasa waktu menunjukkan sekitar jam 9.30 malam. Laila dan Putri tidak lekas tidur, mereka menghabiskan sisa malam mereka dengan berbincang-bincang. Putri terlihat banyak bicara dengan Laila. Entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga akhirnya mereka tertidur sekitar jam satu dini hari.