Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Senin, 20 Februari 2017

Menyelami Hati Melalui Tulisan Tangan (2)

Keesokan harinya, sekitar sore hari saat Adit sedang menonton film, handphone Adit berbunyi. Terdapat pesan Line dari Putri. Dengan segera, Adit membukanya, karena bagi Adit, pesan dari sahabat-sahabatnya adalah prioritas.

"Aku pengen juga dianalisa tulisan tangannya kayak Laila." tulis Putri di pesannya.

Adit bertanya-tanya, ada angin apa sampai Putri kepingin juga dianalisa tulisan tangannya, padahal semalam dia terlihat tidak cukup berminat untuk itu.

Adit membalas, "Kapan?" dan Putri pun meminta untuk bertemu besok malam, di rumah Laila. "Okay, sampai ketemu besok malam."

Putri memang sulit ditebak. Kadang dia adalah sosok yang dingin, kadang dia adalah sosok yang hangat. Adit pun tak jarang bertanya-tanya, apakah dia sebenarnya mengalami gangguan bipolar? Sepertinya bukan. Gangguan tersebut ditandai adanya perubahan suasana hati yang drastis sekali, sementara Putri tidak seperti itu. Tapi seingat Adit, di suatu malam, dia pernah berbincang dengan Putri di telepon. Di menit-menit awal dia sangat ceria dan penuh tawa, tapi di dua menit sebelum pembicaraan berakhir, dia perlahan menjadi lebih diam dan terkesan malas untuk berbicara. Adit kebingungan, apakah dia salah bicara sehingga membuat Putri tersinggung dan marah? Karena tidak ingin memperburuk suasana hati Putri, akhirnya Adit memutuskan untuk menyudahi obrolannya.

Di malam berikutnya, malam di mana waktunya Adit menemui Putri di rumah Laila. Sekitar pukul 6.30, Adit berada di depan pagar rumah Laila. Niatnya dia ingin memberitahu Laila lewat pesan Line bahwa dia sudah sampai di rumahnya, seperti yang biasa dia lakukan sebelum-sebelumnya. Namun Adit melihat pagar Laila sudah terbuka dan di halamannya ada motor Jamal. Tanpa menunggu sambutan si empunya rumah, Adit langsung memasukkan motornya ke dalam halaman, dan memarkirkannua persis di sebelah kanan motor Jamal. Sesudah itu, Adit berjalan masuk ke dalam rumah Laila.

"Assalamualaikum," kata Adit, memberi salam. Di ruang tamu Laila sudah ada Fitri, Jamal, Putri, dan tentunya... Laila. Mereka menoleh ke arah Adit dan menjawab salam darinya. "Kok pada di sini semua?" tanya Adit.

Fitri menjawab, "Tadi aku gabut di kos, terus aku ajak Jamal jalan, sekalian ngajak kalian juga. Eh, kata Laila kamu mau main ke sini. Yaudah, kita mampir aja ke sini dulu."

Adit mengangguk-angguk. Dia melihat Putri duduk di sofa pojok, sedang bermain handphonenya. Kemudian, Adit berjalan menghampiri Putri.

"Sudah nulis?" tanya Adit kepada Putri tanpa basa-basi, dengan suara yang pelan, agar tidak ketahuan yang lain. Sebelum menuju rumah Laila, Adit menyuruh Putri untuk menulis sebanyak sepuluh baris di kertas polos, seperti yang Laila lakukan sebelumnya. Jamal yang mendengar mereka bercakap pun heran dan langsung bertanya kenapa ngomongnya pelan begitu. "Apa, sih? Kepo deh." jawab Adit.

Putri mengambil sebuah kertas, dengan beberapa baris tulisan yang dia tulis, dari saku belakang celananya dan menyodorkannya kepada Adit tanpa sepatah kata pun. Adit menerimanya.

Jamal pun nyeletuk, "Analisis tulisan tangan ta? Bukannya Laila yang kemarin minta?"

"Kemarin aku sudah, Mal." sahut Laila. "Putri kayaknya kepingin juga tuh."

Fitri pun ikut nyeletuk, "Aku juga mau dong, Dit."

"Gantian..." Adit mencoba membaca isi tulisan tersebut. Belum ada sebaris Adit membaca tulisan tangan Putri, tiba-tiba, Putri menggenggam tangan Adit dan menariknya ke teras depan. Sepertinya Putri ingin sedikit ruang privacy. Tanpa bertanya kepada Putri kenapa dia menariknya keluar, Adit pun melanjutkan membaca tulisan tangan Putri.

Putri menuliskan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris. Entahlah dia menjiplak sebuah lirik lagu barat atau tulisan yang ada di dalam buku berbahasa Inggris. Tapi sepertinya itu adalah murni curhatan Putri yang dia tulis dalam bahasa Inggris. Sembari menunggu Adit selesai menganalisa, Putri memainkan pulpen yang dia pegang.

"Kalo aku lihat sih..." Adit lalu terdiam sejenak, seperti sedang berpikir. "Kamu pinter bahasa Inggris ya?" Adit mencoba melucu dan leluconnya sukses membuat Putri tertawa kecil. "Oke becanda. Kamu itu orangnya suka cover up..."

Mendengar itu, Putri langsung mengambil kertas yang dipegang Adit, kemudian Putri memandang Adit dengan tatapan yang tajam, setajam ujung pisau dapur, sambil membunyikan suara 'pssstt' yang berarti menyuruh Adit untuk mengecilkan suaranya. Putri lalu meletakkan kertas itu di meja, dan dia menulis di bagian yang kosong pada kertas itu apa yang telah dikatakan Adit.

"Terus?" Putri menyuruh Adit untuk meneruskan analisannya, sambil bersiap-siap menulis di kertas itu.

Adit memelankan suaranya. "Mudah kecewa, pemalu, dependensi yang tinggi, perfectionist..." dan dia mengatakan apa saja yang dia temukan dalam analisannya, sedangkan Putri sibuk menuliskan apa-apa yang dikatakan Adit. "Nah, sekarang, dari kesemua itu, ada berapa yang sekiranya cocok?" tanya Adit kepada Putri, ketika selesai menganalisa tulisan tangan Putri.

Putri melihat kembali sifat-sifatnya yang telah dia tulis. Tercatat ada 10 poin yang sudah disebutkan. Putri terdiam sejenak, lalu melingkari poin-poin yang sesuai menurutnya. Ada sebanyak 7 poin yang sesuai. Ya, terdapat 7 dari 10 poin yang sesuai. Lumayan hebat untuk penganalisis amatir seperti Adit. Harusnya Adit merasa bangga akan hal itu, tapi dia malah terlihat biasa saja. Mungkin dia berusaha menyembunyikan perasaan itu kepada Putri agar tidak terlihat sebagai penganalisis amatiran.

Tidak sampai di situ, Adit berusaha membuat Putri menceritakan tentang dirinya. "Memangnya orangtua kamu, maaf sebelumnya, suka mengengkang kamu, ya, Put?" tanya Adit, mulai memancing. Ini merupakan kesempatan bagi Adit untuk mengetahui segala keanehan tingkah laku Putri. Tak ada jawaban dari Putri. Dia malah mengerutkan alisnya dan menunduk sebentar.

"Ayahku..." kata Putri, dengan suara yang pelan. Lalu dia diam lagi, tidak melanjutkan perkataannya. Adit, bersabar menunggu cerita dari Putri. Tidak lama kemudian, Putri melanjutkan ceritanya. "Ayahku orangnya kasar, suka main bentak, bahkan ke mamaku juga."

"Lalu?" Adit memancingnya kembali untuk bercerita lebih dalam. Akhirnya Putri pun terpancing. Adit memang hebat.

Lama-kelamaan, Putri bercerita dengan sangat menggebu-gebu dan emosional, namun tetap dengan suara yang sedikit berbisik-bisik. Adit terlihat serius mendengarkan cerita dari Putri. Sesekali perhatiannya lengah akibat menatap mata Putri kala bercerita, namun secepat mungkin dia mengembalikan perhatiannya pada cerita Putri. Terlihat Putri sangat bersemangat bercerita seolah-olah dia telah menemukan telinga yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya, setelah sempat mengira bahwa dunia tidak akan pernah mau mendengar.

Adit kembali menanyakan beberapa pertanyaan serius kepada Putri. Dia seperti ingin menggali informasi lebih dalam mengenai penyebab dari munculnya tingkah laku yang terbaca olehnya. Semakin Putri menjawab pertanyan Adit, semakin dia ingin sekali menangis. Matanya berkaca-kaca dan berubah menjadi merah jambu. Sempat Putri berhenti bercerita, menutup wajahnya dengan kertas yang dia pegang tadi, dan tersedak-sedak, berjuang menahan tangis di baliknya. Bagi Adit, ini adalah pemandangan yang biasa. Entah Putri orang yang keberapa yang menangis saat sedang mencurahkan isi hatinya kepada Adit. Sebenarnya Adit ingin tau, kenapa perempuan mudah sekali menangis. Apakah semua perempuan tercipta dengan hati yang cukup lemah?

"Kamu apain Putri, Dit?" tanya Fitri kepada Adit, heran bercampur agak sewot. Adit sendiri terkejut dengan keberadaan Fitri dan Jamal yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Laila yang penasaran, ikut keluar melihat apa yang sedang terjadi. "Kok sampe nangis gitu?" lanjut Fitri.

"Digigit sebelah manamu, Put?" Jamal yang juga melihatnya pun bertanya kepada Putri, bermaksud mengambil kesempatan untuk melucu. Seperti itulah Jamal, selalu mencari celah untuk melucu, bahkan di situasi seperti ini.

"Gak kenapa-kenapa, kok." Adit menenangkan Fitri yang terlihat agak sewot. "Mau ke mana, Fit?" tanya Adit, basa-basi, mengalihkan pembicaraan.

"Ke supermarket sebentar, sama Jamal." lalu Fitri memakai salah satu sandal yang berada di halaman rumah Laila, begitu pun juga Jamal. Kemudian Jamal mengeluarkan sepeda motornya ke luar rumah. Sebelum menyusul Jamal, Fitri berpesan kepada Adit dengan nada ketus, "Awas aja kalo sampe Putri kenapa-napa!"

"Kenapa-napa apanya? Udah sana pergi. Bawel deh." kata Adit.

Jamal dan Fitri pergi meninggalkan rumah Laila menuju supermarket. Seakan mengerti keadaan, Laila yang tadinya berdiri di depan pintu, berbalik badan dan kembali ke ruang tamu, membiarkan Adit dan Putri berdua saja. Putri terus berusaha untuk menghentikan rintihan tangisnya. Melihat itu, tangan Adit berusaha menggapai kepala Putri untuk mengusap-usapnya, sebagaimana yang dilakukanan seorang laki-laki saat berusaha untuk meredakan tangis seorang perempuan.

Namun, belum sampai tangannya menyentuh kepala Putri, Adit mengurungkan niatnya itu. Dia menarik kembali tangannya dan membiarkan Putri menangis melepaskan sesak di dadanya dan penat di kepalanya.