Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Senin, 27 Februari 2017

Dialog Sebelum Matahari Terbit (Final)

"Kemungkinan seperti itu."

Mata Putri meneteskan air mata setelah mendengar jawaban dari Adit, kemudian dia menunduk dan mulai menangis. Adit bingung harus apa. Di samping itu dia juga bingung, apa yang mesti Putri tangisi dari kepergiannya? Bukankah Putri punya seseorang untuk tunggu? Sementara Adit? Dia harus pergi meninggalkan zona nyamannya untuk mencari kenyamanan lainnya yang bisa dia tempati.

Adit membiarkan Putri menangis. Bukan hal baru bagi Adit melihat Putri menangis. Dia mencoba untuk tidak lagi terlalu peduli padanya. Telinganya teralihkan dari suara tangisan Putri beralih ke suara musik yang dia putar, yang rupanya sudah berpindah ke beberapa lagu.

Love you forever and forever
Love you with all my heart...

Penggalan lirik lagu The Beatles yang berjudul I Will tersebut seperti mewakili isi hati Adit yang tidak ingin diungkapkan. Dalam hatinya, Adit ikut bernyanyi, seolah-olah dia sedang menikmati perasaan terpendamnya.

"Kamu segitu sayangnya, ya, sama Dia?" tanya Adit. Dengan sisa air matanya, Putri hanya mengangguk. "Apa yang bikin kamu sayang sama Dia?"

"Gak tau. Sayang aja." jawabnya, sambil mengusap air matanya pelan-pelan.

Dalamnya percakapan mengantarkan mereka menuju ke tepian malam. Terdengar suara dengkuran saling bersahutan menimang malam. Langit bertabur bintang-bintang yang berbangga diri menunjukkan terangnya, namun tetap tenang, seakan turut menjadi saksi kelanjutan kisah mereka.

"Aku ngantuk, Dit." kata Putri. Setelah saling diam agak lama.

"Kita bakal ada terus di sini sebelum aku mendengar keputusanmu. Kamu biarin aku tinggal atau kamu mau nunggu Dia pulang?" Putri tersedu-sedu kembali. Adit tidak mau pertanyaannya menggantung seperti pertemuan sebelumnya. Dia mengulangi pertanyaannya kembali, "Biarin aku tinggal atau nunggu dia pulang?"

Putri tetap menangis. "Aku ngantuk, Adit."

"Just answer me! Please."

Putri meneruskan tangisnya. Adit sebenarnya merasa bersalah pada dirinya, namun dia berusaha untuk tidak menujukkan perasaannya itu. Tidak lama kemudian, perlahan tangisnya mulai mereda. Putri mengusap kembali air matanya. Akhirnya kali ini Putri bersedia menjawab. "Aku nunggu dia pulang aja, ya, Dit."

Adit terdiam. Dia mengambil nafas dalam-dalam, lalu membuangnya. Setelah itu dia berkata, "Kalo gitu... aku pulang, ya."

Putri mengangguk sambil tersenyum. "Bye!"

Kemudian mereka berdua beranjak dari pinggir danau menuju tenda. Setelah saling melempar ucapan selamat malam, mereka kemudian masuk ke dalam tenda masing-masing dan bergegas beristirahat.

Malam itu, Adit pamit pergi. Ternyata menerima keputusannya untuk pergi tidak semudah yang dia kira. Cukup berat. Adit mencoba untuk melupakan sejenak dan beristirahat, sebelum memulai mengemas hatinya untuk dibawa pulang.

Pukul tiga di pagi hari. Badai kencang menerpa tenda-tenda sekitar untuk beberapa saat, tidak terkecuali tenda milik mereka berenam. Sesudah badai kencang tersebut terhenti, beberapa pendaki yang terbangun, berhamburan keluar tenda mereka masing-masing untuk mendapatkan ketenangan melalui kebersamaan. Begitu pun juga mereka berenam.

"Kamu gak kenapa-kenapa, Put?" tanya Adit, kepada... siapa lagi kalau bukan Putri? Pertanyaan Adit dibalas oleh Putri dengan sebuah senyuman kecil.

Tiba-tiba Adit menggandeng tangan Putri dan mengajaknya ke pinggiran danau, tempat di mana mereka saling berbincang tadi. Putri tidak menolak atau melawan. Dia membiarkan dirinya mengikuti ke mana Adit membawanya.

Mereka duduk berdampingan di pinggiran danau.

Lebih dingin dari seblumnya dan langit agak mulai terang, membuat alam sedikit memperlihatkan keindahannya, meskipun tidak seindah saat pertama kali Adit ke tempat ini sekitar setahun yang lalu. Memang, sebagai manusia kita selalu merusak apapun yang kita sentuh, termasuk hati satu sama lain.

Adit kembali membuka percakapan.

"Mengenai kepulanganku..." Adit terhenti. Mata mereka tidak saling berpandangan, namun saling menatap ke dapan dengan tatapan kosong. Tidak ada lantunan musik dalam percakapan mereka kali ini. Adit mencoba meneruskan. "... aku gak mau pulang, Put."

Mata Adit beralih ke wajah Putri, dilihatnya dia menutup mulutnya sambil menahan tawa.

"Kalau memang kamu nunggu dia pulang, kenapa kamu ngebiarin aku bertamu? Ini sama aja kayak kamu ngajak aku terbang menjumpai langit, terus kamu jatuhin aku pas lagi tinggi-tingginya." kata Adit menambahkan. Putri menghilangkan senyum di wajahnya. Mereka berdua terdiam. Terdengar suara tawa dan sayup-sayup obrolan para pendaki dari kejauhan. "I know letting go would be easy thing to do. But moving on would not."

"Adit..." kata Putri menjawab. "Aku gak bisa nerima hati lain untuk menetap karena dia bakalan pulang. Aku yakin dia bakal pulang."

"Bagaimana kalo misal dia nggak pulang?"

"Dia pasti pulang."

"Seandainya dia nggak pulang?"

"Dia pasti pulang."

"Seenggaknya kamu persiapkan hati kamu pada opsi lain, Putri!"

"Dia pasti pulang."

Putri tetap pada keyakinannya. Adit sudah mulai menyerah untuk menanyakan hal yang sama kepada Putri, karena jawabannya akan selalu sama: dia pasti pulang.

Adit pikir, kedatangannya akan dapat mengobati luka Putri, namun ternyata tidak, Adit ternyata tidak lebih baik dari seseorang di masa lalu Putri. Walau bagaimanapun.

Putri menggosok-gosokan kedua telapak tangannya ke badannya dan sesekali menggigil. Ini adalah pertama kalinya Putri merasakan udara yang lebih dingin dari AC di kamarnya. Adit kemudian berdiri, lalu menyodorkan tangannya ke arah Putri.

"Ayo balik." kata Adit. Nada suara yang dia keluarkan menggambarkan keadaan seseorang yang dilumuri rasa kecewa, terdengar cukup pelan, datar, dengan pandangan tak acuh. Putri meraih tangan Adit dan dia pun berdiri. Mereka berjalan menuju tenda dengan tangan saling menggenggam.

Sekalipun pandangan Adit juga tidak cukup jelas melihat kondisi tanah yang dia pijak, namun dia tetap berupaya untuk menuntun langkah Putri menuju tenda. Putri yang berjalan di belakang Adit tidak berkata apapun. Mereka berdua tidak saling berbicara, kecuali ketika Adit sedang memberi peringatan kepada Putri mengenai keberadaan batu yang harus dihindari.

Sampai tenda, Adit merasa heran karena tidak ada seorang pun di dalam tendanya, sedangkan Putri terkejut karena tenda yang dia tempati tiba-tiba terisi penuh. Rupanya Andrian dan Jamal pindah ke tenda Putri. Terpaksa, tenda yang harusnya ditempati oleh Adit, Jamal, dan Andrian, kini ditempati hanya mereka berdua, Adit dan Putri.

Mereka berdua langsung merebahkan badannya dan bergegas untuk tidur. Badan mereka saling menghadap berlawanan. Sebelum akhirnya tertidur, Putri berkata dengan suara yang pelan, "Maafin aku."

Adit tidak menjawab.

Tidak lama kemudian, Putri sudah memasuki alam mimpinya. Sementara itu, Adit masih terjaga. Perasaannya kacau, antara perasaan kecewa sekaligus malu karena merasa lengah dalam menghadapi terpaan rasa harapnya.

Pagi harinya, Adit terbangun karena teriakan keras Fitri yang heboh melihat matahari terbit dari balik bukit di sebrangnya, seakan dia tidak pernah melihat matahari sebelumnya. "Eh rek... itu mataharinya! Ayok foto-foto!" katanya. Teriakan Fitri disambut tawa oleh pendaki-pendaki lainnya yang juga mendengar teriakannya.

Adit melihat ke arah Putri yang masih tertidur, yang akhirnya dia dikejutkan oleh Fitri yang tiba-tiba membuka pintu tendanya sambil teriak, "Ayok buruan bangun! Fotoin aku! Keburu mataharinya makin tinggi! Cepeeeettt!!!"

Teriakan Fitri membuat Putri terbangun sambil mengucek-ucek matanya. Melihat itu, Adit langsung menyapanya. "Selamat pagi." katanya. Putri tersenyum malu.

"Apasih, Dit? Alay, ah!" kata Putri yang malu sambil tersenyum dan mendorong bahu kanan Adit. Memang, itu adalah ucapan selamat pagi pertama yang diucapkan kepada Putri secara langsung. Mungkin juga untuk yang terakhir kalinya. Karena Adit merasa bahwa dia tidak akan pernah lagi menjumpainya.

Sebelum keluar tenda, Adit berpesan kepada Putri, "Ngomong-ngomong..." kata Adit. "Lain kali ngoroknya dikondisikan ya, buk!"

Putri yang merasa tidak mengorok pun membela diri, "Apaan? Mana ada aku ngorok!" ketusnya sambil menepuk bahu Adit sedikit keras.

"Mana ada orang sadar kalo tidurnya ngorok haha." Adit tertawa.

Tawa yang tidak akan Putri sadari bahwa itu adalah tawa yang bertujuan untuk menutupi rasa sedihnya. Dari rasa sedih itu Adit pun tersadar, bagaimana bisa dia merasa kehilangan akan sesuatu yang tidak pernah dia miliki?

Salah dia sendiri, terlalu banyak berharap.


NB: Cerita fiksi ini adalah buah karangan yang terinspirasi dari kisah sebenarnya.