Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Senin, 27 Februari 2017

Dialog Sebelum Matahari Terbit (Begining)

Sekitar pukul delapan lebih tiga puluh menit, malam hari.

Suhu udara sekitar 10 derajat celcius.

Adit mengeluarkan matras yang berada di carrier miliknya lalu dia menggelarnya, dibantu Andrian, di depan kedua tenda berukuran sedang, yang baru saja dia pasang bersama Jamal dan Andrian. Satu tenda untuk Adit, Andrian, dan Jamal, sedangkan satunya lagi untuk Laila, Fitri, dan Putri.

Tidak ada yang bisa melarikan perhatiannya pada media sosial mereka masing-masing, karena tidak akan sampai sinyal di dataran setinggi ini. Ranu Kumbolo, dengan ketinggian 2400 meter lebih dari permukaan laut.

Sembari menunggu air mendidih, mereka berenam duduk melingkar, saling membangun keharmonisan, dan mencoba mengabaikan angin malam yang berhasil menembus lapisan jaket tebal mereka. Sementara itu, sesekali Adit diam-diam mencuri pandang kepada Putri. Matanya terus mengagumi akan binar mata dan rona ceria yang terpancar dari wajah Putri ketika sedang tertawa mendengar lelucon dari Jamal.

Ya Rabb, akankah aku berpulang ke hatinya? Gumam Adit, berharap dapat menjadikan Putri sebagai rumah terindahnya, tempat hatinya berpulang.

Gelembung-gelembung besar muncul dari permukaan air yang ada di dalam panci, menandakan bahwa air yang mereka masak telah mendidih. Fitri menuangkan air mendidih itu ke dalam gelas-gelas, untuk dijadikan suguhan minuman hangat. Api yang tadinya digunakan untuk memasak air, kini dipakai untuk memasak sayur lodeh dan telur dadar. Laila, Fitri, dan Putri yang bertugas untuk menyajikan hidangan tersebut untuk makan malam mereka.

Percakapan terus berlanjut, sampai akhirnya, sayur lodeh buatan Laila, Fitri, dan Putri siap dihidangkan. Hanya bermodalkan pencahayaan dari head lamp, mereka bersama-sama menikmati hidangan buatan mereka sendiri, yang terasa jauh lebih nikmat dari berbagai menu hidangan yang ada di tempat tongkrongan manapun yang pernah mereka datangi.

Usai makan, mereka menumpukkan piring-piring ke pinggir tenda. Satu per satu dari mereka masuk ke dalam tenda untuk bergegas beristirahat. Laila dan Fitri tidak bersabar untuk merasakan pagi di tempat ini.

Sekitar pukul sepuluh malam, dengan suhu udara yang sama.

Adit mencoba untuk tidur, namun dia belum merasakan kantuk. Dia memutuskan untuk keluar untuk menghilangkan kebosanan di dalam tenda. Saat di luar, Adit melihat Putri sedang duduk terdiam seorang diri di pintu tendanya, yang letaknya berada di samping kiri tenda Adit.

Adit pun menghampiri Putri. "Putri, bisa bicara sebentar?" kata Adit tanpa berbasa-basi.

Putri yang tadinya melamun, langsung melihat ke arah Adit, lalu dia bertanya balik, "Di sini atau di tempat lain?"

"Ikut aku, yuk."

Adit membawa Putri menuju pinggiran danau. Dia menggelar matras yang dia bawa sebagai alas mereka untuk duduk. Terlihat ada beberapa pendaki lain juga berada di sekitaran sana, sedikit jauh jaraknya dari mereka. Dinginnya agak menusuk, namun menenangkan hati. Cahaya rembulan bersinar terang, namun tidak cukup membantu pandangan mereka untuk melihat keindahan danau dan dua bukit hijau yang ada di hadapan mereka dengan jelas.

Adit memutar sebuah lagu di smartphone miliknya dengan volume suara yang pelan, seakan hanya mereka berdua yang dapat mendengar. Sebuah lagu yang sedang hits pada saat itu.


Ketika ku mendengar bahwa kini kau tak lagi dengannya
Dalam benakku timbul tanya
Masihkah ada dia, di hatimu bertahta?
Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu
Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?

Tenang dan... cukup romantis.

"Aku masih menunggu diusir." kata Adit membuka percakapan. Putri langsung membuang muka seakan tidak tertarik dengan pembahasan ini. Dia terdiam. Cukup lama, hingga membuat Adit bertanya, "Apa, sih, yang bikin kamu gak mau ngusir aku, Put?"

Diam.

Adit bertanya lagi. "Kamu masih nunggu Dia pulang, kan?" Putri hanya mengangguk. Dia yang Adit maksud adalah seseorang di masa lalu Putri, yang selalu diceritakannya kepada Adit.

"Tapi aku gak pengen kamu pergi." Putri menjawab. Sekarang gantian Adit yang terdiam.  "Aku nyaman sama kamu, Dit."

Mereka berdua terdiam. Sama-sama dengan pandangan kosong.

"Pokoknya aku gak mau kamu pergi." tambah Putri.

"Kalo kamu nahan aku kayak gini, sama aja kamu buang-buang waktu aku, Putri. Aku berharap kamu adalah tempat di mana aku berhenti mencari."

"Katamu ada banyak tempat yang lebih baik di luaran sana, bukan? Kenapa masih milih aku?"

"Ada banyak hati yang pengen singgah, kenapa masih nunggu seseorang yang belum tentu pulang?"

Diam.

"Aku yakin Dia bakal pulang."

"Tau dari mana?"

"Aku yakin aja." Putri mengorek-ngorek tanah, lalu mengambil kerikil-kerikil kecil dan melemparnya ke danau. "Aku nyaman sama kamu soalnya kita ini punya banyak kesamaan."

Adit dan Putri adalah dua pribadi yang memiliki banyak kesamaan, memang. Entah itu selera musik, film, hobi, perilaku, kebiasaan, dan berbagai hal lainnya. Bisa dibilang, yang tidak sama dari mereka hanyalah gender. Adit pernah menganggap bahwa Putri adalah dirinya dalam versi perempuan. Putri pun menganggap Adit adalah dirinya dalam versi laki-laki.

Kesamaan hanya menimbulkan kenyamanan, bukan cinta. Bila memang menimbulkan cinta, bisa jadi itu adalah proyeksi karena mereka mencintai diri mereka sendiri, bukan karena cinta yang bertujuan untuk saling melengkapi atau saling membutuhkan.

"Aku pernah nonton film drama Korea." ujar Putri. "Ceritanya ada dua pasang cowok dan cewek, hidup terpisah di tempat yang saling berjauhan, tidak saling kenal, tapi mereka memiliki jalan hidup yang sama. Setelah lama menjalani hidup mereka masing-masing, akhirnya mereka dipertemukan oleh semesta di suatu tempat. Nah, aku ngerasa hidup kita tuh seperti itu, Dit."

"Pada akhirnya mereka cuma bertemu? Tanpa ada kelanjutan lain?"

"Ada, sih." jawab Putri. Kemudian Adit menanyakan kelanjutan dari kisah tersebut, dan Putri menjawab, "Mereka saling mencintai dan akhirnya... menikah."

Adit tersenyum kecil, lalu Putri juga ikut tersenyum. Seakan mereka berdua sama-sama sadar bahwa sekalipun berakhir bahagia, namun dalam realita tidak akan pernah bernasib sama.

"Aku pengen pulang." kata Adit.

Putri secara refleks melihat ke arah Adit beberapa saat, lalu mengembalikan kembali pandangannya ke arah semula. Matanya perlahan berkaca-kaca, entah apa yang menjadi alasannya. Lalu Putri bertanya kepada Adit, "Kalau misal kamu pulang, apa kamu bakal pergi jauh-jauh?"