Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Senin, 08 Agustus 2016

Tuan Kanan dan Tuan Kiri: Sepi

Di suatu sore, saat langit perlahan menjingga dan diiringi suara gemuruh rintik gerimis hujan mengetuk atap kamar berulang kali, aku berbaring di kasur kamarku dan, yah... merenung. Seorang diri. Sementara itu, di sebuah ruang, di balik tempurung kepalaku, terdengar Tuan Kanan dan Tuan Kiri sedang berbincang. Tuan Kanan dan Tuan Kiri adalah sepasang sahabat, beda karakter, namun saling membutuhkan. Lebih dari itu, mereka adalah makhluk yang rumit.

"Kiri," sapa Tuan Kanan kepada Tuan Kiri yang sedang duduk di sebelah kirinya. "Menurutmu apa yang dimaksud dengan sepi? Maksudku, apa sebenarnya itu sepi, menurutmu?" tanyanya, penasaran.

"Sepi adalah kesendirian, bukan?" jawab Tuan Kiri, sederhana.

Tuan Kanan mengangguk, tanda ia mengerti. "Saat tidak ada satupun orang di sekitar kita, begitu maksudmu?" tambah Tuan Kanan untuk memastikan bahwa dia tidak salah menangkap jawaban dari Tuan Kiri.

Tuan Kiri meneguk segelas susu cokelat hangat yang ada di atas meja yang menjadi pemisah antara dirinya dengan Tuan Kanan. Kemudian dia menjawab, "Bisa juga seperti itu," Tuan Kiri diam sejenak, meletakan kembali gelas berisi susu cokelat hangat miliknya itu. "Tapi tidak selamanya seperti itu. Kau paham maksudku, kan, Kanan?" lanjutnya.

Tuan Kanan mengernyitkan dahinya. "Tidak." jawab Tuan Kanan tanpa basa-basi.

"Ada kalanya seseorang merasa sepi sekalipun dirinya berada di dalam keramaian. Ada kalanya seseorang merasa nyaman saat sendiri. Sendiri bukan berarti sepi. Sepi itu adalah sebuah akibat." jelas Tuan Kiri.

Tuan Kanan bertambah penasaran, "Apa itu penyebabnya?" tanyanya.

"Kesendirian itu sendiri." jawab Tuan Kiri, santai.

Tuan Kanan mencoba menangkap maksud dari Tuan Kiri. "Lalu, apa itu kesendirian?"

"Kesendirian adalah saat seseorang sadar bahwa dirinya sedang sendiri dan dia merasa butuh kehadiran orang lain." jelas Tuan Kiri.

"Bagaimana dengan sepi?"

"Menurutmu sendiri?" Tuan Kiri balik bertanya.

Tuan Kanan menyandarkan punggungnya di badan kursi yang dia duduki. Tuan Kanan berusaha membuat dirinya merasa lebih nyaman. "Entahlah, aku hanya bisa merasakan ketidaknyamanan perasaan itu tanpa pernah tau apa penyebabnya. Aku rasa kau yang lebih tau, Kiri."

Tuan Kiri tersenyum, matanya mengarah ke langit-langit tempurung namun pandangannya kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, Tuan Kiri pun menjawab, "Sepi adalah akibat dari seseorang yang mengharap kehadiran orang lain, akan tetapi orang tersebut tak dapat memenuhi harapnya."

Seketika itu, Tuan Kanan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Kiri. "Maksudmu seseorang yang diharapkan kehadirannya ternyata tidak ada di sekitarnya? Begitu maksudmu?" tanya Tuan Kanan, mencoba untuk memahaminya. Tuan Kiri pun membenarkan. Tuan Kanan kini mulai mengerti maksud dari Tuan Kiri.

Tuan Kiri mencoba berpesan kepada Tuan Kanan. "Untuk itulah, aku meminta padamu, sebagai penanggungjawab atas segala angan, agar tidak terlalu sering mengharapkan kehadiran orang lain."

Tuan Kanan diam, menunduk lesu, seperti dia butuh untuk dimengerti. "Kau paham betapa sulitnya hal itu bagiku, bukan? Terlebih kita berada di dalam raga Si Perenung. Dia seperti lebih tertarik dan cukup senang dengan kehidupan di dalam pikirannya. Karena dia merasa bahwa segala apa yang dia inginkan terasa nyata di dalam pikirannya."

"Aku paham." jawab Tuan Kiri. "Bagaimanapun juga tugasku adalah menyadarkan bahwa kehidupan sebenarnya bukanlah ada di dalam pikirannya, melainkan di hadapannya."

Tuan Kanan kembali terdiam. Seketika Tuan Kanan pun sadar bahwa kesenangan yang coba dirinya ciptakan sebenarnya hanya menambah kesakitan yang baru. Luka yang dirasakan adalah akibat dari obat yang dirinya tawarkan. "Ya, aku tau itu." katanya, lesu. Tuan Kanan kini merasakan apa itu disonansi. "Bagaimana bila kau saja yang tidak usah mencampuri kesenangannya di dalam pikirannya?" lanjut Tuan Kanan.

"Itu sama halnya aku membiarkan dia memasuki alam kejiwaan yang tidak baik." jawab Tuan Kiri. Tuan Kanan terdiam. Kemudian Tuan Kiri kembali meneguk susu cokelatnya yang sudah tidak lagi terasa hangat seperti tadi.

Tuan Kanan masih terdiam. Hal itu yang membuyarkan lamunanku. Saat itu aku mulai tersadar bahwa aku terlalu hidup di dalam pikiranku.

"Aku akan coba." kata Tuan Kanan. "Tapi nanti." lanjutnya.