Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 10 April 2016

Sigh.

Bersama pertemuan ada perpisahan, sebagaimana telah diciptakannya pagi dan malam. Pagi akan menemui malam dan malam akan kembali menemui pagi. Kita tidak pernah tahu sampai di mana batas pertemuan kita dengan orang lain, terlebih dengan orang-orang yang kita sayangi. Semua ada masanya. Seperti halnya masa di mana yang mengenal akan melupakan, yang dekat akan saling menjauh, dan yang terikat akan saling melepas. Bila perpisahan adalah keniscayaan, berarti hidup ini soal siapa yang lama bertahan atau pergi membawa kesan.

Bukan maksud hati tidak menghargai setiap pertemuan, tapi adalah fitrah manusia bila terkadang merasa jenuh terhadap segala keadaan. Terkadang mengacuhkan sampai perpisahan mengajarkan kepadaku tentang nilai-nilai kebersamaan dan menceritakan tentang siksa penyesalan akibat perpisahan.

Aku percaya bahwa sebuah cerita tidak pernah menyuguhkan akhir yang bahagia. Lalu tentang perpisahan, apakah soal kepergian atau pergantian? Tak ada banyak pilihan, hanya ada berjuang melawan waktu atau berdamai dengan kenangan. Menanti pagi dengan terjaga dalam dinginnya malam atau pergi tidur. Egoku mengambang antara harus menanyakan "kapan pulang?" atau pasrah untuk mengikhlaskan, sembari menanti pertemuan-pertemuan berikutnya. Entah harus menanti atau mencari.

***

Sahabat pergi, berpamitan kepada tak seorangpun, karena sendirinya pun tidak merencakan kepergiannya sore itu.

Kabarnya tersebar. Aku dan teman-teman bertamu ke rumahnya, berkumpul di ruang depan. Suasana haru, tenang. Lantai berlapis karpet dan tikar, sedangkan meja dan kursi disimpan untuk sementara. Sebelum pulang, pihak keluarga menyajikan semangkuk soto ayam sebagai simbolis ucapan terimakasih karena telah membantu mendoakan sang jasad menemui Tuhannya. Dalam kepergian ini, tidak ada pilihan lain selain mengikhlaskan. Atau menyusul bila rindu dan ingin bertemu. Itu pun kalau nanti bertemu.

***

Rabu sore itu, aku dan dia duduk berdua di beranda rumah teman baikku. Bertukar cerita sambil melihat anjing peliharaan melahap makanan kesukaannya dengan rakus.

Lalu mataku terjatuh pada matanya yang kosong dan berkaca-kaca kala bercerita. Dia memang seorang wanita dengan segudang cerita sendu, tapi aku suka. Langit meremang dan maghrib pun menjelang. Dia memintaku untuk segera diantarkan pulang. Setibanya di tempat dia singgah, dia berkata "Maaf, aku minta buru-buru pulang." Dan aku menjawab, "Aku takut kalo ini terakhir kali kita bertemu." dia pun hanya mengulang kata "maaf"-nya.

Apa yang kutakutkan, pun, kini menjadi nyata. Tentang kepergian ini pun aku masih saja bingung, apa iya aku harus menunggunya pulang?

***

Tak ada yang salah dengan tingkahnya. Dalam perjalanan pulang, kami masih beradu tawa seperti halnya semua keadaan baik-baik saja. Bahkan sampai saat ini, aku masih ingat lelucon darinya waktu itu. Siapa sangka, usai dia menutup pagar tempat singgahnya malam itu adalah saat di mana kami bertemu untuk terakhir kalinya.

Padahal kami masih memiliki janji untuk bertemu esok hari. Yah, memangnya apa yang lebih mudah dari mengingkari janji? Lalu kepergian ini rasanya sudah tak punya jalan pulang. Kalau saja aku tau bahwa itu adalah malam terkahir kita bertemu.

***

Puncak dari segala rindu adalah berharap bertemu. Setiap kenangan terkadang menjadikan basah sebagian yang kering. Semoga yang pergi, dimudahkan jalan untuk pulang. Ke mana pun itu tujuannya. Aku tak keberatan menunggu pagi, entah itu dengan terjaga atau tidur, tapi aku masih merasa takut bila bertemu lagi dengan malam.

Kepada malam...

Cepatlah berganti pagi.