Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 06 Maret 2016

Cinta Itu Narkoba

“Love is drugs and heartbreak is your body in withdrawal.”


Pernah jatuh cinta, kan? Aku yakin pernah. Bohong kalo gak pernah, karena semua orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Mencinta dan dicintai merupakan hirarki kebutuhan manusia terpenting setelah kebutuhan fisiologis (makan, minum, sex, dll) dan kebutuhan akan rasa aman.

Cinta gak melulu soal perasaan kepada orang yang kita suka, tapi juga tentang persahabatan, kedekatan dengan orangtua atau keluarga, dan bahkan cita kepada benda mati. Tapi di sini, kita akan ngomongin cinta dalam “perspektif” orang kebanyakan.

Apa maksud dari kalimat premis di atas? Cinta itu kayak obat substansi. Obat substansi itu sendiri adalah obat-obat yang mangandung zat adiktif yang dapat membuat pemakainya jadi kecanduan atau adiksi, seperti contohnya alkohol, nikotin, amfetamin (ekstasi), dan kokain. Pertanyaannya: kok bisa?

Semua obat yang diadiksi bisa digunakan untuk menambah tingkat kenyamanan psikologis seseorang, karena kebanyakan obat substansi (atau mungkin semua) bekerja untuk merangsang pelepasan beberapa sistem neurotransmitter seperti dopamin (penyemangat), norepinefrin (penambah kewaspadaan), dan serotonin (berkaitan dengan mood, perasaan senang, dan nyaman), yang mana ketiganya biasa dikenal sebagai reward system of the brain. Ketika sudah ketergantungan obat substansi, tingkat kebutuhan pada obat substansi akan terus bertambah, karena mereka perlu meringankan suasana-perasaan negatif atau menghindari gejala yang disebut withdrawal (nanti dijelasin, kok). Mereka mungkin kayak ngerasa dipaksa mengkonsumsi obat sebagai alternatif untuk melakukan sebuah kegiatan, kayak misal, pidato, nulis, dan yang paling sering yaitu untuk penunjang aksi panggung bagi para musisi.

Persamaannya dengan cinta adalah ketika kita merasa nyaman pada seseorang, artinya kita sudah merasa teradiksi atau ketergantungan. Kita ngerasa kehadiran seseorang tersebut bisa menambah tingkat kenyamanan psikologis kita. Aku juga gak begitu yakin apakah jatuh cinta bisa mengaktifkan sistem neurotransmitter juga apa nggak, yang jelas, jatuh cinta juga bisa bikin kita tambah semangat dan perasaan senang. Selain itu, yang namanya cinta pasti ada rasa kalo kita juga makin ngerasa butuh kehadiran orang tersebut di saat kita lagi bad mood atau lagi stress entah karena tugas sekolah, kuliah, atau pekerjaan bagi yang udah kerja. Ketika orang yang kita harapkan nggak ada di saat kita sedang butuh, kita akan merasakan gejala withdrawal.

Sebelumnya, ada dua hal yang perlu diketahui dari ketergantungan subtansi, yaitu fenomena tolerance (toleransi) dan withdrawal (kita biasa menyebutnya sakaw). Tolerance lebih pada system saraf kita jadi kurang peka terhadap efek-efek dari obat substansi. Contoh, pas pertama kita minum alkohol, sebotol aja udah bisa ngerasain efeknya. Tapi di hari-hari berikutnya, minum sebotol udah gak mempan lagi, jadi kita perlu tambah minum lebih dari sebotol untuk merasakan efek yang sama. Kalo withdrawal adalah efek yang dialami seseorang ketika tidak memakai atau berhenti menggunakan obat dan efeknya bisa berhari-hari. Contohnya, pecandu rokok kalo gak ngerokok (katanya) kepalanya pusing, kurang konsentrasi, dan mual. Jadi intinya, orang yang kecanduan obat substansi itu kalo gak nambah dosisnya, gak bakal bisa ngerasain efeknya dan juga untuk menghindari efek tidak menyenangkan saat berhenti mengkonsumsinya.

Hubungannya sama cinta apa?

Jadi gini, efek tolerance juga bisa bekerja pada saat kita jatuh cinta. Ketika kalian sedang jatuh cinta, pertama kali mungkin pas kalian bisa chatting, telponan, atau bahkan ngobrol langsung sama pacar aja udah bisa ngerasain efeknya, yaitu perasaan senang. Di hari-hari berikutnya, kalian udah gak ngerasain perasaan “senang” itu lagi dengan hanya chatting, telponan, dan ngobrol langsung, akhirnya biar bisa ngerasain kesenangan itu lagi, kalian mulai mencoba nambah dosis lagi, yaitu kontak fisik, misal pegangan tangan, belai-belai rambut (bagi yang cowok), sampai ke ciuman, mulai dari pipi, merambat ke bibir, terus ke leher, sampai ke jempol kaki (ya mungkin aja, sih). Di hari-hari berikutnya, kontak fisik tersebut udah kerasa “biasa aja”, akhirnya kalian mencoba kontak fisik lainnya, yang lebih ekstrim lagi, yaitu hubungan seksual.

Lama-kelamaan, hubungan seksual sudah kalian anggap “biasa aja”. Kalian bingung untuk bisa menciptakan efek dari cinta itu sendiri, yaitu perasaan senang. Kalian berusaha untuk nambah dosis lagi, tapi sayangnya hubungan seksual merupakan dosis yang paling tinggi. Kalian udah gak bisa ngerasain efek “senang” tersebut, lalu kalian ngerasa hubungan kalian gitu-gitu aja dan mulai tidak bisa memertahankan hubungan, pada akhirnya kalian memilih untuk mengakhiri hubungan. Ketika putus hubungan, di saat itulah kalian merasakan efek withdrawal, seperti depresi, stress, kesulitan belajar atau bekerja, dsb. Lalu untuk menghindari efek withdrawal dari putus cinta tersebut, akhirnya kalian memilih untuk jatuh cinta lagi.

Makannya, islam sendiri melarang kita untuk pacaran. Emang bener kalo di Al Quran atau Al Hadist gak ada kata pacaran, tapi larangan untuk mendekati zinah. Seperti yang sudah saya jelasin, kebanyakan pacaran pasti mengarah ke zinah, dan itulah larangannya. Dampaknya bisa merujuk ke dampak fisiologis dan psikologis. Dampak fisiologis tuh kayak misal penularan berbagai penyakit, seperti HIV, infeksi kelamin, dan lain-laiin. Dampak psikologisnya? Bentar… lagi mau dijelasin.

Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa hubungan seksual adalah salah satu cara untuk memertahankan sebuah hubungan percintaan. Nah, di beberapa negara, seperti Amerika, itu ada istilah kohabitasi, yaitu melakukan hubungan seksual dan hidup bersama meskipun belum menikah. Dan kohabitasi sudah menjadi gaya hidup. Dan menurut beberapa studi mengatakan bahwa pasangan yang pernah melakukan kohabitasi atau melakukan hubungan seksual sebelum menikah, tingkat kepuasan pernikahannya lebih rendah dan tingkat perceraiannya lebih tinggi. Menurut buku yang saya baca, di Amerika, tingkat perceraiannya cukup tingga dan rata-rata durasi pernikahannya hanya bisa bertahan selama 9 tahun atau lebih.

Kira-kira seperti itulah gambaran dampak psikologisnya.


Oleh karena itu, kenapa lebih enak pacaran setelah nikah daripada sebelum nikah, karena tingkat kepuasan hubungan seksualnya lebih tinggi dan lebih bisa memertahankan hubungan pernikahan dibanding yang udah pernah melakukannya sebelum menikah.