Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 04 Oktober 2015

Bercerita dan Beranalogi (Begining)

Saat itu Adit duduk di sebelah kiri Putri, di sebuah rumah makan cepat saji, sedang mendengarkan Putri bercerita tentang seseorang di masa lalunya. Bersamaan dengan itu, dari balik jendela kaca, terlihat orang-orang sedang berlalu-lalang, sedangkan mentari perlahan mulai merebahkan diri di balik awan sore. Waktu berlalu secara tergesa-gesa. Sudah berjam-jam Adit menghabiskan harinya bersama Putri, setelah sekitar hampir dua minggu mereka tidak saling bertemu, dikarenakan Putri harus pulang ke Kalimantan untuk menemui keluarganya.

Olahan kata seperti telah tersusun baik dalam kepala Putri, sehingga dia dapat begitu menggebu-gebu meluapkan isi hatinya dan terdengar hampir tanpa jeda. Sedangkan Adit terus berusaha mengacuhkan dunia, memastikan agar dia tidak melewatkan setiap katanya dari mulut Putri.

Bila melihat ke belakang, sebenarnya Putri juga sering bercerita mengenai apapun saat mereka sedang jauh, entah itu cerita tentang kucingnya yang suka main seruduk, tentang kakaknya yang sering dia omelin, atau tentang keberadaan makhluk halus di dalam rumahnya. Mungkin bagi Putri, akan terasa lebih lega bila bercerita tanpa perantara, karena tidak akan ada lagi kalimat yang percuma hanya karena koneksi internet yang tidak stabil, yang mana hal itu menjadi hal yang cukup menjengkelkan bagi seseorang yang sedang ingin didengar.

Jika ada ucapan yang ingin Adit dengar lebih sering, maka itu adalah segala kata yang keluar dari mulut Putri.

Tingginya matahari nampak sejengkal dari pelupuk mata. Sedikit cahayanya menerobos ke dalam ruangan melalui jendela kaca, lalu terangnya menghiasi sebagian sudut meja. Akhirnya, sampai juga mereka berada di penghujung kalimat dalam cerita Putri. Setelah puas bercerita, Putri pun terdiam. Entah sekedar untuk menstabilkan nafasnya atau mungkin saat itu dia sedang menikmati rindu yang penatkan benaknya. Rindu kepada seseorang di masa lalunya.

Hening.

Adit mulai gelisah. Secara diam-diam, tangan kirinya mengambil handphone dari saku kiri celananya, lalu dia pandangi. Ada sesuatu yang harus dirinya sampaikan, yang sudah dia tulis rapih di dalam sebuah catatan di hanphonenya, tapi Adit tidak punya cukup nyali untuk itu. Meskipun begitu, biar bagaimana pun, dia harus menyampaikannya, atau kegelisahan akan terus membayanginya untuk waktu yang bahkan dia sendiri pun tidak tau sampai kapan. Akan sangat lama tentunya.

“Sekarang aku yang cerita, ya?” kata Adit kepada Putri, dengan pandangan kosong mengarah ke meja. Berani juga dia rupanya. Dia menoleh ke arah Putri setelah itu, menyembunyikan handphhonenya, lalu dia menambahkan. “Boleh?”

Putri yang tadinya terdiam, langsung menoleh ke arah Adit. Seperti biasa, Adit tidak pernah bisa bertahan memandang mata seseorang terlalu lama, dia pun memalingkan pandangannya dari mata Putri dengan segera. Putri selalu tersenyum melihat Adit yang seperti itu.

Dengan sambutan yang cukup hangat, Putri pun menjawab, "Oh iya, silahkan.” Dia mulai mengatur posisi duduknya, menghadapkan badannya ke arah Adit, namun tidak dengan matanya, karena dia tau, Adit benci itu. Setelah merasa nyaman dengan posisi duduknya, Putri memasang telinga dengan baik. Pasti akan sedikit melelahkan. Tapi biarlah, mengingat Adit tidak pernah menceritakan apapun kepada Putri, bahkan tentang dirinya sendiri sekalipun. Entah apa yang membuat Adit enggan untuk menceritakan tentang dirinya kepada Putri. Tentu hal ini membuat Putri kesal, sampai-sampai Putri pernah berkata kepada Adit, "Aku gak pernah tertarik sedikitpun tentang cerita orang, baru kali ini aku tertarik buat menanyakan How about you? kepada orang lain. Hargain dong!"

Tapi Adit tetap kekeuh tidak ingin bercerita.

Adit pun menghembuskan nafas besar untuk mengumpulkan keberanian. Keberanian itu lah yang mengantarkan Adit pada kalimat pertamanya. “Aku pernah bertamu ke sebuah rumah." kata Adit, mengawali ceritanya. Dia sepertinya masih belum merasa nyaman untuk bercerita. Tapi dia harus tetap melanjutkannya. "Aku nyaman berada di dalam rumah itu. Terus lama kemudian, aku kayak disindir untuk pulang sama pemiliknya. Tapi pas aku mau pulang, aku disuruh duduk lagi. Terus disindir lagi..."

"Loh? Kok gitu?" Putri memotong cerita Adit. Memang mendengarkan adalah pekara sederhana yang cukup sulit. Adit membalas dengan cara tersenyum. Senyuman Adit membuat Putri tersadar bahwa dia telah memotong cerita Adit. "Oh, maaf." kata Putri, dengan suara yang pelan.

Adit kembali melanjutkan ceritanya. "Pas mau pulang, eh ditarik lagi. Pokoknya gitu terus sampai kesekian kali.” Adit terdiam sebentar, mencoba meringkas ceritanya agar Putri tidak merasa bosan. Putri tetap menunggu Adit untuk melanjutkan ceritanya karena dia tidak ingin kembali memotong cerita Adit. “Kalo kamu jadi aku, gimana perasaanmu?”

“Ya bingung lah!” Jawab Putri, dengan nada sedikit sewot. “Itu orang maunya apa, sih?”

Adit kembali terdiam. Dia sendiri pun bingung harus bagaimana lagi untuk melanjutkannya. Putri mulai heran bercampur penasaran karena Adit tidak kunjung melanjutkan ceritanya. “Terus maksud kamu apa cerita kayak gitu?” lanjut Putri.

Adit kembali tersenyum. Kemudian Adit pun berkata, “Aku menganggap rumah itu... adalah kamu.”

Mendengar hal tesebut, rona merah mewarnai sebagian pipi Putri yang berwarna kuning langsat. Dia pun langsung menahan tawa. Bukan tawa yang muncul karena mendengar hal yang lucu, tapi ini adalah tawa karena terpesona. Terlihat Putri berusaha menyembunyikan pipi merahnya itu dengan meletakkan kedua tangannya melipat di atas meja, kemudian menunduk di sela-sela lipatan tangannya itu. Tatapannya memandang ke depan. Kosong. Dengan sisa senyuman yang ada.

Kemudian Adit melanjutkan ceritanya dengan permainan analoginya.

“Baru kali ini aku menemukan sebuah rumah yang gak begitu bagus, namun aku menemukan kenyamanan di dalamnya. Bagaimana dari segi design interiornya sampai ke tata letak setiap prabotannya, membuat aku merasa seperti berada di rumah sendiri. Aku nyaman berada di sini—di rumah itu. Aku gak mau pulang, dan aku pengen tinggal di situ untuk selama mungkin."

Adit menjelaskan bahwa Putri sebenarnya tidak cukup cantik, hanya saja terlihat menarik. Adit melihat Putri bukan dari segi fisiknya, tapi dari cara dia berbicara, kebiasaannya, dan ciri khasnya. Adit merasa menemukan kecocokan pada Putri. Itulah yang membuat Adit merasakan kenyamanan yang tidak dia temukan pada perempuan manapun.


Bersambung