Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Senin, 05 Oktober 2015

Becerita dan Beranalogi (FInal)

"Baru kali ini, atau mungkin hanya rumah ini saja yang membuatku tertarik untuk mendengar seluruh cerita setiap sudut ruangan rumah itu dari sang pemiliknya. Aku berkali-kali mencoba memintanya untuk menceritakan rumah itu. Lama kelamaan, aku semakin mengenal rumah itu."

Pada dasarnya Adit menyukai Putri karena segala cerita hidupnya yang selalu Putri suguhkan. Dia merasa mulai mengenal Putri, di situlah Adit merasa nyaman. Karena awal dari kenyamanan adalah proses mengenal.

"Aku mencoba memberikan masukan agar rumah itu tampak lebih bagus, lebih baik, dan lebih bernilai."

Maksud Adit adalah penampilan Putri. Memang, Adit paling suka 'mengotak-atik' gaya penampilan Putri, menyuruhnya memakai pakaian ini dan itu, agar terlihat lebih menarik. Adit pernah membawakan cap, jaket, dan sepatu miliknya untuk dipakai Putri. Terasa menyenangkan untuk Adit karena Putri tidak pernah sekalipun menolak. Dari sinilah muncul rasa 'memiliki' dari dalam diri Adit.

"Kenyamanan, kadang membuatku bertingkah seenaknya. Sampai-sampai bikin sang pemilik rumah cemberut dan melontarkan kata jangan. Aku menurutinya agar sang pemilik rumah tetap tersenyum dan menganggap aku tamu yang baik. Sikapnya seolah mengajarkanku tentang aturan saat bertamu."

Kenyamanan membuat Adit seperti lupa batasan pada Putri. Seakan tidak ada lagi sekat-sekat yang membatasi antara dirinya dengan Putri. Seperti ketika Adit merasa bisa leluasa bertingkah aneh di hadapan Putri tanpa khawatir merasa aneh atau sekedar menceritakan sebuah lelucon kepada Putri tentang lelucon-lelucon yang mungkin kebanyakan perempuan tidak akan menyukainya. Adit juga pernah berlaku kelewat batas pada Putri, seperti mencubit-cubit pipi Putri dan membelai-belai rambutnya. Tentu hal-hal tersebut tidak semestinya dilakukan oleh seorang lelaki kepada teman perempuannya.

"Lama kelamaan, sang pemilik seperti memintaku untuk pulang. Mengusir dengan cara yang halus. Tapi memaksaku untuk tetap tinggal saat aku hendak beranjak pergi. Dibegitukan terus hingga berkali-kali.”

Adit menganggap bahwa Putri lebih dari sekedar teman dekat, tapi tidak juga dianggapnya sebagai kekasih. Sekalipun sebenarnya ada harap yang cukup jauh pada diri Adit untuk menjadikan Putri sebagai rumah tempat hati berpulang, kekasih sepanjang hidupnya. Tingkah laku Adit dapat terbaca oleh Putri, sehingga Putri kadang 'mengusir' Adit dengan ucapan bahwa dia masih menunggu seseorang di masa lalunya, yang baru saja dia ceritakan, untuk pulang. Tak jarang juga Putri 'memanggil' kembali Adit agar tidak menjauh darinya, bahkan Putri pernah menangis dan berkata bahwa ternyata Adit tidak ada bedanya dengan orang-orang yang pernah singgah di dalam hidup Putri, dan pada akhirnya semua akan pergi meninggalkannya, termasuk Adit.

Mendengar itu, Adit memutuskan untuk tetap tinggal.

Adit yang bodoh.

Adit merasa cukup lega bisa mengutarakan isi hatinya kepada Putri secara langsung, tanpa ada halangan koneksi internet yang tidak stabil. Suasana sekitar hening. Yang terdengar hanya suara langkah kaki orang-orang dari luar.

“Sekarang…” Adit menghentikan ucapannya sejenak, setelah itu dia melanjutkan kembali ucapannya yang sempat terhenti, “Aku pingin kamu usir aku dengan tegas, supaya aku bisa tenang dan pergi dengan sopan.” katanya, dengan perasaan berat hati.

Putri terdiam. Memalingkan wajahnya dari Adit. Kedua matanya menatap ke luar jendela dengan tangan kanan menompang dagunya. Tangan kirinya di letakkan di atas meja sambil jemarinya memainkan ujung lengan jaket hitam yang dia kenakan, yang mana itu adalah jaket milik Adit. Warna merah rambut Putri semakin terlihat menyala terkena sorotan matahari sore dari luar ruangan. Entah apa yang sedang dia pandanginya hingga membuat dia terdiam begitu lama dan memilih untuk tidak merespon ucapan Adit.

“Aku nunggu loh.” kata Adit, meminta kembali pada Putri.

Dia masih terdiam. Tangan kirinya kali ini mengaduk-aduk sisa minuman bersodanya dengan sedotan. Adit heran, kenapa Putri tidak juga berbicara. Adit melihat ke arahnya sebentar untuk memastikan bahwa dia diam bukan karena sedang tertidur. Sambil tetap mengaduk-aduk minuman bersodanya dan memandanginya dengan tatapan kosong, Putri akhirnya mengambil bicara. “Ya terserah kamu, Adit.” Katanya.

Adit membalas, "Terserah itu bukan kalimat mengusir.” Putri kembali terdiam. Mereka pun saling diam. Tak ada hal lain yang bisa mereka bicarakan, selain jawaban dari Putri.

Mau apa sekarang bila tidak ada yang bisa dibicarakan? Pikir Adit.

Setelah saling diam cukup lama, Putri mengucap sesuatu. “Pindah tempat, yuk.” katanya, membuyarkan kecanggungan itu. Kali ini dengan memandang mata Adit, yang kebetulan sedang memperhatikan tingkah Putri saat itu.

Adit tersenyum kecil. Dia tidak ingin memaksakan Putri agar segera menjawab pertanyaannya. Adit mengangguk kemudian dia berkata, “Ayok.”

Tidak perlu berlama-lama, mereka pun sama-sama beranjak dari kursi tempat di mana mereka duduk, lalu melangkah pergi. Berjalan beriringan. Setelah beberapa langkah, tangan kanan Adit meraih tangan kiri Putri, kemudian mereka terus berjalan, ke luar ruangan. Bergandengan tangan.

Sore itu, Adit masih berada di dalam rumah. Masih menunggu untuk diusir dengan jelas oleh sang pemilik, namun bukan berupa sindiran. Sekalipun masih dapat menikmati kenyaman di dalam rumah tersebut, ada perasaan yang mengganggu pikiran Adit, karena cepat atau lambat, dia akan pergi. Di dalam hatinya seperti, “Sayang sekali rumah ini bukan tujuan akhirku.”

Tidak ada percakapan yang berarti dari mereka. Sembari melangkah, pikiran Adit terbayang masa lalu. Dalam bayangnya, Adit ingat bahwa dia pernah berkata kepada Putri bahwa tak akan jadi masalah bila Putri bukanlah jodohnya, karena Adit yakin pasti akan diganti dengan yang lebih baik. Pasti ada perempuan yang lebih baik di luar sana. Tapi Adit menginginkan dia. Dan tugas Adit untuk saat itu adalah menganggap Putri yang terbaik dan melupakan yang lebih baik.

Adit yang bodoh.

Tapi setelah itu...

"Eh, yang kamu omongin tadi..." kata Putri, lagi-lagi membuyarkan suasana canggung. Dia terdiam sejenak. Mungkinkah dia akan menjawabnya? Kemudian Adit menunggu, apapun jawabannya. Putri pun melanjutkan, "...lihat catetan di handphone kamu ya? Haha."

Adit terlihat cukup malu.

Adit yang bodoh.


NB: Cerita fiksi ini adalah buah karangan yang terinspirasi dari kisah sebenarnya.