Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 19 Juli 2015

Wanita Sebelum Hilang (1)

Aku membuka kembali sebuah percakapan yang tersimpan di pesan facebook malam itu. Percakapan yang aku nanti-nantikan setelah sekian lama sejak awal aku melihatnya di suatu tempat. Kapan dan di mana tempatnya, aku sendiri pun lupa. Ingatan tentang pertemuan pertamaku dengan dia perlahan memudar bersamaan dengan waktu.

Ya Tuhan, kenapa di kota ini ada banyak sekali drama yang ingin aku tulis?


***

“Nama panggilanmu siapa, btw?” tulis dia di pesan facebook.

“Tergantung.” Balasku. “Kalo pengen mainstream, cukup panggil Aliando.”

“Kalo yang gak mainstream?”

“Panggil aja Nobita, hehe.”

“Oke, Nobita. Ntar kalo ketemu jangan diem aja, ya. Say HI kek, hehe.” Aku membacanya. Seketika aku pun tersenyum. Entah apa yang membuatku tersenyum, but it really works.

“Oke. I’ll try.” Balasku. Lagi-lagi dengan segala usaha untuk memnyembunyikan rasa bahagiaku.

***

Siang itu, aku dan Zlatan, temanku, sedang berjalan di suatu tempat. Seperti biasa, kita saling beradu lelucon dan bertukar tawa, karena aku pikir, seperti itulah pertemanan yang seharusnya. Gak lama kemudian, aku memegang tangan kiri Zlatan sesaat setelah aku melihat sesuatu, kemudian aku menarik badannya.

Aku mengangkat tangan kananku sejajar dengan dada, lalu mengacungkan jari telunjukku sembunyi-sembunyi dan mengarahkannya searah mataku memandang.“Gimana menurutmu? Lucu gak dia?” kataku kepada Zlatan. Zlatan pun memerhatikannya.

Aku menunjuk ke arah seorang cewek dengan setelan serba merah. Mulai dari jilbab, baju kotak-kotak, dan rok panjang. Dia memakai kacamata besar berwarna coklat. Aku sering melihat dia di tempat itu. Biasanya bersama teman-temannya, tapi pernah juga sendiri. Waktu itu, dia sedang duduk santai dan mengobrol dengan temannya.

“Kawaii, cok!” seru Zlatan dengan volume suara yang lumayan keras. Seruan Zlatan barusan sukses mengundang perhatian cewek itu. Kedua bola matanya melirik ke arah kami, sambil tetap meneruskan kalimatnya. Aku dan Zlatan sok-sokan melihat ke arah lain, sebelum cewek itu sadar kalo kita baru saja sedang memerhatikannya. Kami pun buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.

Sambil berjalan, Zlatan nyenggol bahuku. “Itu tadi siapa?” tanyanya.

“Adik tingkatnya anak kosku, Tan.” Jawabku. “Satu angkatan juga kok sama aku.”

Zlatan sedikit tertawa. “Gak kamu ajak kenalan aja dia?”

“Malu, eh.”

“Ngapain malu? Kamu kan pake baju.”

“Iya, sih pake baju. Tapi, kan, gak pake celana.” Candaku. Zlatan tak menunjukkan ekspresi apapun. I know that was a bad joke. “Tapi udah aku add kok facebook-nya.” lanjutku.

“Udah di confirm?”

“Belom.”

"Duh, usaha lain napa? Sapa tau dari kenalan, bisa saling sayang. Kan tak kenal maka tak sayang, haha."

Usaha lain, ya? Sejauh ini usahaku untuk mencoba berkenalan hanya dengan cara add facebook-nya aja, karena aku gak sepede itu untuk main serong. Aku masih suka salah tingkah ketika berhadapan dengan cewek, karena aku sendiri bingung bagaimana cara bersikap di depan mereka. Aku hanya mampu mengungkapkan seadanya, meski aku rasa itu adalah sebaik-baiknya usaha yang aku bisa.
 
Tak kenal maka tak sayang? Fuck that word. Nyatanya semakin kita mengenal, semakin kita tau keburukan masing-masing, hingga kadang kita berfikir: lebih baik tidak usah saling mengenal lagi.

Sedikit basa-basi.

Aku sering naksir cewek, bukan berati aku mudah jatuh cinta. Aku sering mengeluh betapa sulitnya mengajak cewek untuk kecan, bahkan mengajaknya berkenalan sekalipun, tapi aku lupa, bahwa ada beberapa someone-in-the-past yang aku kecewakan. Ketika aku suka sama cewek, selalu ada keinginan untuk ngedapetin mereka. Tapi sayang, kadang usahaku untuk ngedeketin mereka, malah bikin aku ngerasa pengen banget ngejauhin mereka, hingga aku pun akhirnya benar-benar menajuhinya.

Kesalahanku saat naksir cewek hanya satu: selalu memandang dengan menggunakan sudut pandang sang pendamba. Bila kita melihat dari sudut itu saja, semua akan terlihat sempurna. Itulah yang dinamakan Hallo Effect. Ketika aku mencoba memandang mereka dari satu sudut pandang yang berbeda saja, pasti ada banyak hal yang membuat mereka terlihat tak menarik lagi, menurutku.

So why do I decided to move away? Ya kalo ketidakcocokan itu membuat kita gak nyaman, kenapa mesti dipaksa lanjut?