Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 19 Juli 2015

Wanita Sebelum Hilang (Final)

Aku selalu berharap kepada Tuhan dengan segala kebaikanNya agar mau mempertemukan aku dan dia lagi walau hanya sebentar. Aku ingin sekali menyapanya, seperti yang dia pinta jikalau kita bertemu suatu saat nanti. Yang bisa aku lakukan sekarang hanya sekedar menelusuri tempat itu lagi berkali-kali, berharap kita berjumpa di sana, di tempat di mana aku selalu menemuinya, sebelum akhirnya kita tidak lagi bertemu.

Well, pada dasarnya kita tidak merindukan seseorang, tapi kenangan-kenangannya lah yang kita rindukan. Sekalipun aku dan dia tidak pernah saling bertukar sapa, bukan berarti aku tidak menciptakan kenangan tentang dia sama sekali, bukan?

Aku inget, dia selalu duduk bersama teman-temannya di tempat yang sama setiap jumat pagi. Setelannya selalu berbeda-beda. Setelan yang selalu sama hanya kacamata cokelat, ransel kotak-kotak merah, dan sepatu Converse Chuck Taylor All Star Classic warna putih-hitam yang mulai memudar menjadi sedikit ke-abu-an. Sepertinya cewek yang satu ini memiliki selera fashion yang gak terlalu ribet dan orisinil. Syar’i but cool enough.

Aku inget, waktu aku sering menebak-nebak dari mana cewek itu berasal. Yah, mengingat kota ini penuh dengan beragam pendatang dari segala penjuru negeri. Aku menebak, mungkin dari Bandung? Kalimantan? Atau bisa jadi dari Papua. Jangankan tempat dia berasal, nama aja belum tau. Aku cuma bisa nanya sana sini ke temen-teman yang aku kenal. Tapi taunya, gak ada satu pun dari mereka yang mengenal dia.

Kenapa gak ada yang kenal? Apa dia gak terlalu famous? Aku pun baru sadar. Wajar aja mereka gak ada yang tau, wong beda jurusan.

Aku memanggilnya ‘cewek lucu berkacamata cokelat’. Capek juga ya manggil dia dengan sebutan sepanjang itu. Pastilah akan lebih mudah merindukannya kalo aku mengetahui nama aslinya. Aku terus menyebutnya dengan sebutan itu, hingga akhirnya, Tuhan menganugerahkan nama cewek itu kepadaku. Tentu dengan caraNya yang selalu terlihat tanpa rencana. Haha, mungkin Tuhan kasihan dengaku yang selalu menyebutnya dengan sebutan sepanjang itu.

Hari semakin sore, tapi suara hujan di luar masih terdengar mengguyur deras. Ketika aku mencari tempat yang pas untuk menunggu hujan reda, aku melihat dia sedang duduk sendirian di sebuah tempat duduk. Sepertinya dia juga sedang menunggu hujan reda. Hari ini dia memakai jilbab merah, jaket varsity kombinasi warna hitam-putih, dan rok hitam.  Masih dengan ransel dan sepatu yang sama.

Tempat yang dia duduki masih muat untuk satu orang lagi. Tanpa meminta izin, aku memutuskan untuk langsung duduk di sebelahnya. Dia menegok ke arahku, tapi aku tak menunjukkan ekspresi apapun. Kini aku dan dia duduk berdampingan. Jarak kita mungkin terhitung hanya satu jengkal saja. Sekalipun berdampingan, kita tidak saling tegur. Diam saja, seperti patung yang bernafas. Sesekali aku mengacak-acak rambutku. Aku hanya harap dia tidak mendegar suara deguban jantungku yang mengencang tiba-tiba.


Suasana terpecahkan ketika Zaki, temanku, kebetulan lewat. Spontan saja aku memanggilnya meskipun tidak ada kepentingan sama sekali. “Woy, Zak!” tegurku. Zaki menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arahku. Aku mengayunkan telapak tanganku untuk memanggilnya. Zaki pun menghampiriku.

Padahal inggal selangkah lagi Zaki berada di depanku, tapi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Sekarang posisinya berada di hadapan ‘cewek lucu berkacamata coklat’ itu. Zaki memperhatikannya sebentar, kemudian tersenyum, lalu menyodorkan tangannya ke wajah 'cewek lucu berkacamata cokelat itu' untuk mengajaknya bersalaman. Pede sekali Zaki ini mengajak cewek itu berkenalan.

Cewek itu menyambut tangan Zaki, mereka pun bersalaman. “Lagi ngapain, Zak?” tanyanya kepada Zaki dengan bahasa Jawa. Loh? Ternyata mereka berdua sudah saling kenal toh? Bahasa yang dia gunakan saat bertanya kepada Zaki menandakan bahwa dia adalah orang Jawa. Tapi Jawa mana? Surabaya? Malang? Atau... Papua?

Oke, becanda.

Zaki melepaskan tangannya dari genggaman cewek itu. “Jalan-jalan aja.” Jawab Zaki, juga dengan bahasa Jawa, karena Zaki sendiri anak Malang. “Kamu sendiri ngapain?”

“Nunggu hidayah aja, hehe.” Katanya. Aku tau cewek ini punya niatan ngelawak, but it doesn’t work.

“Eh, gimana kabar adikmu?” tanya Zaki. Kalimat yang pas untuk membawanya ke pembicaraan panjang. Aneh, perasaan aku deh yang manggil, kok malah aku yang dikacangin? Ah, gak apalah. Mungkin sekedar basa-basi karena baru ini bertemu sejak sekian lama. Mungkin loh ya.

Suara gemuruh hujan di luar sudah tak terdengar lagi. Cewek itu melihat ke arah luar untuk memastikan bahwa hujannya reda. “Eh, aku balik duluan ya.” Kata cewek itu kepada Zaki, sesaat setelah mereka mengobrol cukup lama. Sepertinya hujan emang sudah mulai reda.

“Oh, oke. Hati-hati ya.” Sahut Zaki. Cewek itu memakai ranselnya di punggung yang semula dia letakkan di pangkuannya, kemudian beranjak dari tempat dudukya. Dia melambaikan tangannya kepada Zaki sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Setelah Zaki membalas lambaian tangannya, dia kemudian duduk di sebelahku. “Ngapain, bro?” tanya Zaki kepadaku.

Tak menghiraukan pertanyaannya, aku balik nanya ke Zaki. “Siapa itu tadi, Zak?” tanyaku, dengan ekspresi sok santai, berusaha menutupi rasa penasaranku terhadap cewek itu. ”Akrab banget sampe nanya-nanya adiknya segala?” lanjutku.

“Adek kelasku waktu SMA." Jawab Zaki. "Sekarang jadi adek tingkatku juga di sini, haha.”

Aku mengangguk-angguk sambil mikir, pertanyaan apa yang pas untuk menanyakan siapa nama cewek itu tanpa menunjukkan ekspresi ‘pengen tau banget namanya’. “Asli Malang juga dong?” tanyaku, sebagai pertanyaan premis.

Dengan santai Zaki menjawab, “Yoi.”

Fuck! Salah nanya. Pertanyaanku terlalu tertutup banget kayak portal komleks pas udah lewat jam sembilan malem. Entah kalimat apa lagi yang mesti aku pake lagi untuk memancing Zaki agar dia mau menyebutkan nama cewek itu. Oh Tuhan, andai saja aku punya keahlian menghipnotis orang.

Aku berusaha memancingnya kembali, “Eh iya, si anu, mm, si... siapa itu tadi namanya?” tanyaku dengan nada sok-sokan lupa namanya, padahal belum tau juga.

Zaki menjawab, “Tina.” Cakep! Kepancing juga dia.

“Iya, Tina. Angkatan berapa dia emang?"

"Sama kayak kamu."


Sudah itu, beberapa detik lamanya kita tidak membicarakan apapun. Tiba-tiba Zaki nanya, “Eh, ngomong-ngomong, mandi gak sih kamu ini?”

Aku mulai deg-degan. “Bau emang?”

“Banget lah!" Zaki sewot. "Keringetmu itu baunya udah kayak muntahan gorila!”

Aku sedikit gak percaya, “Masak, sih?”

Melihat tampang innocent-ku, Zaki kesal dan dia misuh, “Cok!” sambil sedikit menggeserkan badannya menjauh dariku.


Sejak itulah aku mulai menyadari bahwa dibalik ekspresi ‘nothing happens’ si cewek tadi, ternyata dia berusaha menahan bau menyengat yang berasal dari keringatku. Rasa seneng bisa duduk bersebelahan dengannya tertutupi oleh rasa maluku sendiri.

Seneng, sih. Tapi sangat memalukan.

Biar bagaimana pun, itulah kenanganku yang tercipta bersamanya.