Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 19 Juli 2015

Wanita Sebelum Hilang (2)

Sudah beberapa bulan, aku tidak pernah lagi melihat dia di tempat itu. Tempat di mana aku sering menjumpainya sebelumnya. Sejak saat itu pula lah aku mulai melupakan soal permintaan pertemananku kepadanya di facebook.

Hingga di suatu siang, ketika aku berjalan menuju suatu tempat bersama teman-teman, aku mendengar ada segerombolan cewek ketawa-ketiwi di belakangku. Seperti itulah cewek kalo lagi kumpul berasa kayak lagi pawai, gaduhnya bukan main. Aku penasaran, apa, sih, yang membuat mereka cekikikan gak jelas gitu. Aku mikir, apa jangan-jangan karena aku memakai celana dalam di luar? Untuk memastikannya, akhirnya aku pun menengok ke belakang. Seketika, aku pun kaget.

Bukan. Aku kaget bukan karena beneran pake celana dalem di luar, tapi karena ada ‘dia’ di antara rombongan cewek itu. Karena malu, aku pun membalikkan badanku ke posisi semula. Aku mencoba untuk tenang, sekalipun degub jantung ini mengencang, semacam terkena alat kejut. Wajah lucunya itu terasa berbeda setelah lama aku tak melihatnya. Ingin sekali aku menegurnya dan bertanya, "Ke mana saja kamu selama ini?"

Tapi aku takut bukan jawaban yang aku dapat, malah dapat amukan warga karena dituduh maling.


Aku meneruskan langkah kakiku dengan tatapan mata memandang ke arah bayangan diri yang berada di depanku. Begitulah aku yang selalu berjalan dengan kepala menunduk malu. Sesekali ingin aku menengok ke belakang lalu mencuri-curi pandang ke arah dia.


Namun, beberapa saat kemudian, aku melihat dia berada sejajar di samping kiriku. Dia berjalan mendahului teman-temannya, dan sekarang dia melangkah dengan kecepatan yang sama denganku. Tanpa sadar, aku menoleh ke arahnya, dia juga menoleh ke arahku sambil meneguk sebotol air mineral berukuran sedang. Sepersekian detik mata kita bertemu. Aku cepat-cepat memalingkan wajahku, karena malu. Padahal belum sempat aku menikmati sesuatu di balik kacamata coklatnya itu.

Aku benci kontak mata. Dan selalu begitu, entah sampai kapan.

Lagi-lagi aku mengecewakan Tuhan yang telah memberiku beragam kesempatan.


Sekian minggu berlalu, untuk sejenak aku lupakan dia, walau kadang teringat kala aku mengucap doa. Musim libur kuliah sudah tiba. Seperti itulah liburan dan segala kebosanan yang terasa. Aku membuka media sosialku lebih sering dari biasanya. Aku membuka facebook, dan melihat kolom pemberitahuanku. Seneng bukan kepalang waktu tau dia udah menerima permintaan pertemananku di facebook. Entah aku harus apa. Apakah aku harus segera menyapanya di kolom pesan kah? Like semua fotonya kah? Bangun mushola kah?

Kali ini aku membiarkan diri melawan rasa takutku. Aku nekat sapa dia di pesan facebook.

“Makasih ya. Aku temennya Zaki, btw. Salam kenal ya.” Tulisku. Send. Dan aku tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Tapi aku gak bisa ngebohongi diriku sendiri. Alam bawah sadarku berharap agar dia sudi membalas pesanku sebelum dunia ini berakhir.

Ternyata Tuhan maha mendengar segala doa hambaNya yang cabul ini. Gak lama kemudian, dia pun membalas pesanku. Dia menulis, “Iya, sama-sama. Maaf baru sempet accept, jarang buka facebook soalnya. Iya, aku tau kok hehe.”

Duaaar! She already knows me. Dengan perasaan senang yang berusaha aku tutupi, kemudian aku segera membalas, “Masak, sih? Aku juga tau kamu kok. Eh iya, kata Zaki kamu suka nonton film, ya?”

“Banget. Kamu suka juga?”

“Baru-baru ini, sih. Film apa yang paling kamu suka?”

“Aku, sih, paling suka nonton film My Rainy Days. Drama Jepang, hehe”

“Oh, My Rainy Days, toh? Iya, aku juga suka sama film itu.”

My Rainy Days adalah film yang bagus, tapi aku gak terlalu suka film drama. Ceritanya kadang bikin baper. Ya, kalimat ‘aku juga’ adalah kalimat yang paling umum dan paling mudah untuk diucap ketika pertama kali berbincang dengan orang yang disuka. Karena kalimat itu diyakini cukup membantu sekali.

Kita pun membahas film-film yang pernah kita tonton melalui pesan facebook itu. Entah sudah berapa lama kita saling balas membalas pesan. Aku rasa aku menikmati obrolan ini, sampai akhirnya dia berpamitan untuk menyudahinya. Tapi sebelum itu...

“Nama panggilanmu siapa, btw?” tulisnya.

“Tergantung.” Balasku. “Kalo pengen mainstream, cukup panggil Aliando.”

“Kalo yang gak mainstream?”

“Panggil aja Nobita, hehe.”

“Oke, Nobita. Ntar kalo ketemu jangan diem aja, ya. Say HI kek, hehe.” Aku membacanya. Seketika aku pun tersenyum. Entah apa yang membuatku tersenyum, but it really works.

“Oke. I’ll try.” Balasku. Lagi-lagi dengan segala usaha untuk memnyembunyikan rasa bahagiaku. 

Dia membacanya. Hanya membacanya, tanpa membalasnya.


Aku pikir, gak bakal semudah itu. Aku tau cewek paling gak suka mengawali. Itulah alasan mengapa beberapa teman cewek kadang suka menyuruhku untuk say HI kalo ketemu. Kadang ada beberapa juga dari mereka yang terpaksa menyapaku duluan karena mereka tau kalo aku ini pemalu.

Pesan terakhir yang aku kirim kepadanya bukan sekedar basa-basi. Tapi artinya memang ‘aku bener-bener bakalan nyoba buat nyapa dia’. Karena aku benar-benar pengen berteman dengan dia. Aku tau itu sulit, tapi aku bakal coba.

Tapi sayang...

Semenjak pesan terakhir itu, sampai sekarang, kita udah gak pernah lagi ketemu.