Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Rabu, 28 Mei 2014

Sabtu Siang di Taman Perpustakaan (Final)

Hari jum’at jam 1 siang. Sebelum mata kuliah berlangsung, aku menikmati teman-teman yang sedang asyik mengobrol dan tertawa dari bangku belakang kelas. Aku diam, sampai akhirnya, Randy datang dan duduk di samping kiriku. Setelah kita saling diam, akhirnya Randy mengatakan sesuatu padaku.

“Eh, Dit.” katanya. Aku menoleh ke arahnya. “Kayaknya kamu gak usah ngedeketin si ‘dia’ lagi deh.”

Aku heran. “Lah? Kenapa?”

“Dia kayaknya gak ada rasa deh sama kamu.” aku menanggapinya dengan tersenyum. Aku baru saja seperti mendengar berita basi. “Lagian, kata Gita juga dia sekarang lagi deket sama cowok.” lanjutnya.

“Emang cowok itu siapa? Papanya?” aku mencoba melucu.

“Serius.”

“Haha, kirain apaan. Kalo itu aku udah tau, Ran. Cewek kayak dia itu gak mungkin gak ada yang mau deketin. Pasti ada.”

“Banyak.”

“Iya, makannya.”

Randy hanya diam sambil mengangguk-anggukan kepala.

Lalu aku melanjutkan pembicaraan, “Toh, lagian cuma deket aja kan? Kenapa mesti mundur?” kataku, mantap. “Kalo emang tolak ukur dia itu tampang sama harta, baru aku mundur. Hahaha.”

Randy menepuk-nepuk pundakku sambil berkata dengan logat khasnya saat mencoba bicara dengan bahasa Jawa, “Yowes lah kalo gitu.”

Kemudian kita berdua kembali saling diam.


Sabtu, akhirnya tiba juga. Waktu menunjukkan jam 7.30 pagi. Doa yang selama ini aku panjatkan, tinggal beberapa jam lagi akan terkabul. Doa itu cukup sederhana: aku ingin agar Tuhan mau menciptakan waktu untuk aku dan dia duduk berdua di suatu tempat dan saling mengobrol.

Selagi menunggu waktu itu tiba, aku sedang mempersiapkan dua hal, yaitu sebuah kamera pinjaman dari teman, dan juga selembar kertas A4 berisi gambar dirinya untuk aku berikan ke dia secara langsung untuk disimpan. Aku membawa kamera karena aku pernah meminta ke dia untuk memotretnya, lalu dia memperbolehkannya. Aku membawa selembar kertas A4 berisi gambar dirinya karena dia pernah memintaku untuk menggambarkan dirinya melalui BBM.

Dan pertemuan ini sekaligus akan menjadi kesempatanku untuk merealisasikan kedua hal tersebut.

Pukul 10.30 pagi, aku sudah berada di taman perpustakaan, tempat di mana aku dan dia akan bertemu. Aku memilih tempat ini karena aku suka tempat ini. Tempat ini teduh karena banyak pepohonan dan juga tidak terlalu berisik. Aku juga suka melihat cahaya-cahaya matahari yang masuk melalui selah-selah daun-daun pepohonan, menghiasi tanah bumi seperti lukisan abstrak karya Sang Pencipta.

Tidak banyak yang aku lakukan saat menunggu dia. Yang aku lakukan hanya melihat jam tangan dan mengamati lingkungan sekitar. Di saat seperti ini, mata dan telingaku menjadi cukup jeli. Di sisi kiriku, aku mendengar sepasang anak manusia saling beradu tawa. Di sisi kananku, aku melihat seorang wanita mengenakan jilbab kuning, baju kuning, dan rok hitam sedang duduk sendiri sambil membaca buku. Aku rasa dia sedang menunggu seseorang, karena beberapa kali dia melihat jam di tangannya, setelah itu dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan raut wajah seperti orang yang gelisah. Sama seperti apa yang aku lakukan saat itu.

Tidak cuma aku dan wanita berjilbab kuning itu saja yang sedang menunggu seseorang. Beberapa dari orang-orang di sekitarku juga menunjukkan gerak-gerik yang sama. Sebagian dari mereka pada akhirnya dihampiri oleh orang yang mereka tunggu, sebagian lagi memilih untuk meninggalkan tempat dengan wajah menatap tanah. Mungkin dia sedang kecewa.

Jam 12.30 siang, dia tidak juga datang. Aku masih mencoba sabar untuk menunggunya.

Jam 1 siang, dia tidak juga datang. Kali ini aku memilih untuk berhenti menunggu dia.

Aku berjalan menuju parkiran tempat di mana aku memarkirkan motorku. Sesampainya aku berada di tempat parkiran, aku langsung menghampiri motorku. Ketika aku hendak mengambil kartu parkir dan STNK dari dalam dompet, terdengar ada suara seseorang sedang memanggilku berkali-kali. Aku pun mencari sumber suara itu. Setelah menemukan di mana sumber suara itu, aku melihat ternyata seseorang itu adalah Randy yang kebetulan berada di situ.

“Ngapain kamu di sini, Dit?” tanya dia.

Dengan sedikit lemas, aku menjawab, “Nungguin ‘dia’.”

“Terus gimana?”

“Dia gak dateng, Ran.”

“Loh?” Randy sedikit kaget. “Kok gitu banget dia?”

“Udahlah gak apa, Ran.” Aku mencoba menyembunyikan kekecewaanku. “Kamu ngapain di sini?”

“Abis nganterin Gita. Tadi abis bla bla bla...” Randy pun menceritakan apa saja kegiatan dia dan mantannya itu dari semalem. Mendengar ceritanya, aku sedikit ngerasa iri. Kita berdua sama-sama mengagumi seseorang dari masa ospek sampai semester ini. Terhitung sudah 2 tahun aku dan dia mengagumi seseorang itu. Bedanya, Randy sudah kesampaian, walaupun pada akhirnya putus juga. Sedangkan aku, mengobrol berdua saja tidak pernah.

Sesampaiku di kontrakan, aku langsung menuju kamar dan merenungi kejadian hari itu. Aku hanya duduk dan diam. Pikiranku kosong. Aku menghembuskan nafas panjang. Setelah itu, Acil, teman kontrakanku menghampiriku dan bertanya, “Gimana? Udah ketemu sama ‘dia’?” lalu aku pun hanya tersenyum.

Sepertinya Acil tau maksud dari senyumanku itu.

“Santai, Dit. Gak usah terlalu dipikirin.” Lanjutnya, mencoba menghiburku. Setelah berkali-kali mencoba menghiburku, Acil pun meninggalkan kamarku dan membiarkanku sendirian.

Aku diam. Semangatku melayang. Saat itu aku malas untuk berbuat apapun. Aku hanya ingin duduk dan diam. Setelah lumayan lama berdiam diri, entah kenapa aku langsung mengambil hapeku, kemudian mencoba mengirim pesan ke dia untuk menanyakan alasan mengapa dia tidak datang. Aku tau tindakanku itu salah, tapi alam bawah sadarku lah yang mendorongku saat itu.

“Kalo boleh tau, kenapa ya mbak tadi gak dateng?” tulisku. Send.

Agak lama kemudian, dia membalas, “Aku kelar pembekalan KKN jam 12.”

Aku heran, lalu aku coba berpikir positif. “Oh, capek ya?” tanyaku.

“Kamu katanya nunggu sampe jam 11. Sudah lewat jam 11 kan? Yaudah, aku pulang tadi.”

Aku menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya. Kemudian aku membalas, “Oh, gitu? Iya, gak apa.” Kemudian aku mengirim lagi, “Aku nunggu mbak sampe jam satu, btw.”

Lama kemudian, dia membalas, “Oh. Maaf banget.”

Aku meletakkan hapeku, kemudian aku kembali berdiam diri. Aku merasakan ada sesuatu yang tak enak dalam diriku. Jantung terasa seperti diremas-remas. Aku mencoba tenang. Aku mencoba menghembuskan nafas seperti biasanya, tapi hal tersebut seakan tiada artinya.

Aku beranjak dari kasurku, kemudian aku keluar kamar dan mengambil gitar, lalu aku memainkan lagu-lagu sedih. Keadaan lumayan membaik.

Aku bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak mengijabah do’aku? Apa Tuhan tidak mendengarku? Katanya Dia maha pendengar?

Aku pun marah kepada Tuhanku sendiri yang sudah memberikanku banyak kehidupan. Aku merasa setan sudah mendominasi alam bawah sadarku. Saat itu, mereka seperti tanpa usaha untuk menyalahgunakan aku.

Aku kalah.

Yah, itulah mengapa aku lebih suka menunggu matahari terbit daripada menunggu seseorang datang. Karena matahari, sekalipun tidak pernah berjanji, tapi dia akan selalu datang menghampiri.

The past is the past. Setidaknya aku sudah bertawakal. Biar bagaimana pun hasilnya...

Insya Allah, itu yang terbaik.


Bersambung