Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 25 Mei 2014

Sabtu Siang di Taman Perpustakaan (2)

Seolah aku tidak mau menyerah untuk mengajaknya bertemu, di lain hari, tepatnya hari kamis, aku mengirim BBM ke dia untuk mengajaknya ketemuan lagi.

“Mbak, nanti ketemuan ya. Atau mbak lagi ada di mana ntar aku samperin. Janji gak bakal lama kok. Makasih :)” tulisku.

Sangat jarang sekali aku memakai emoticon saat berkomunikasi melalui tulisan. Tapi kali ini aku mencoba memakai emoticon senyum dengan harapan keadaan bisa menjadi lebih baik.

“Iya.” Balesnya. Kemudian dia mengirim pesan lagi, “Kalo BBM-ku susah SMS aja, Dito”

Di dalam pesan tersebut dia juga menyertakan nomer hapenya.

Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini aku berusaha untuk tidak terlalu berharap, karena aku tidak mau lagi merasakan kecewa.  Dia datang ataupun tidak, aku siap.

Tidak, sebenarnya aku tidak benar-benar siap.

Kelas bubar jam 9.30 pagi, dan kebetulan di jam tersebut kita sepakat akan bertemu di tangga kembar lantai 4. Aku keluar kelas menuju tangga kembar. Begitu juga dengan beberapa teman-teman kelas lainnya. Mereka duduk dan mengobrol, sekedar untuk menyita kebosanan saat jeda pergantian mata kuliah. Sedangkan aku di sana, sedang menunggu dia. Tidak ada satupun dari mereka yang tau bahwa aku sedang menunggu dia. Kecuali Randy.

Hmm, sebenernya mengobrol adalah cara yang baik untuk mengalihkan kegelisahanku saat menunggu seseorang. Tetapi tidak untuk saat ini. Sesekali mataku memandangi sekitar, karena aku tidak mau melewatkan dia.

Aku melihat jam tanganku. Waktu menunjukkan jam 9.45 pagi. Dia tidak juga datang. Aku memutuskan untuk ke toilet sebentar bersama Randy. Sedikit kecewa. Tapi aku berusaha untuk tidak menunjukkan atau menceritakan kekecewaanku kepada Randy. Nyatanya Randy tau bahwa aku kecewa, karena ketika berjalan menuju toilet aku tidak banyak bicara.

"Kenapa, Dit?" katanya kepadaku.

Dengan sedikit tersenyum, aku menjawab, "Apa? Gak kenapa-napa kok, Ran."

Randy pun diam sambil mengangguk-anggukan kepala, seolah mencoba untuk percaya. Aku menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya. Menghembuskan nafas panjang adalah satu-satunya caraku untuk mencoba mengurangi kekecewaanku saat itu. Dan itu yang biasa aku lakukan ketika aku tidak tau harus bebuat apa saat merasa kecewa.

Sesudah kita dari toilet, kita kembali berjalan menuju tangga kembar. Sesampainya di sana, tidak sampai semenit, aku berpapasan dengan dia.

Iya. Dia, orang yang aku maksud.

Kita saling beradu tatapan mata, kemudian dia tersenyum. Seketika senyuman itu membunuhku sesaat. Senyuman yang masih terasa sampai saat aku menulis bait ini. Aku gugup. Lalu aku memalingkan tatapan mataku kepadanya. Dengan terburu-buru aku mengambil surat untuknya dari dalam saku kemejaku. “Cuma mau ngasih ini.” kataku, sambil menyodorkan surat tersbut kepada dia yang berada persis di hadapanku.

Tanpa sedikit pun aku membalas pandangan matanya kepadaku.

Dia tidak tau sebelumnya  bahwa aku akan memberikan sebuah surat. Terlihat tanpa rasa heran, dia menerima surat itu dan berkata, “Makasih ya.” lalu dia kembali berjalan dan meninggalkanku. Aku pun tersenyum setelahnya. Tanpa dia tau.

“Gak ada 10 detik, Dit.” kata Randy secara tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya.

“Emang aku sudah janji gak bakal sampe semenit, Ran.” jawabku. Mendengar jawabanku itu, Randy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin dia mengira bahwa aku ini terlalu bodoh, pecundang atau apa. Wallahua’lam.

Hmm, 10 detik ya?

Well, artinya itu adalah 10 detik terlama yang pernah aku rasakan.

Pukul 10.25 pagi. Aku mendapat BBM dari dia. Dia bilang, “Dito, aku sabtu ada pembekalan KKN dari jam setengah sepuluh sampai gak tau jam berapa. Kalo ngobrol selesei aku pembekalan gimana?”

Aku bingung.

***

Isi dari surat yang aku berikan ke dia hanya sekedar untuk mengajaknya bertemu dan mengobrol. Aku mengatakan bahwa dalam dua hari ke depan setelah dia mendapatkan surat itu, aku akan menunggu dia dari jam 8 sampai jam 10 pagi di taman perpustakaan.

Aku mengajak dia melalui surat karena ada dua alasan. Pertama, aku pernah mengatakan bahwa aku ingin bertemu melalui BBM, dan hanya di read. Kedua, aku jarang bertemu dengan dia. Sehingga aku lebih memilih surat karena aku berfikiran hanya itu cara yang paling efektif.

Aku bingung, padahal aku sudah menulis bahwa dia tidak perlu menghubungiku kalo memang nantinya dia tidak bisa atau tidak mau datang, tapi kenapa dia malah menghubungiku dan memberikan waktu alternatif?

Tidak apalah. Seenggaknya dia meresponnya secara positif.

 ***

Karena sinyal yang cukup susah di kampus, maka aku baru bisa membalas pesan tersebut pada jam 11.27 siang. “Gak usah dipaksain mbak. Pembekalan KKN itu lama loh. Capek pasti. Mbak mau nerima suratku aja aku udah seneng.” tulisku, dengan sedikit kemunafikkan di akhir kalimat. Ya, aku memang berharap dia akan datang menemuiku saat itu.

“Yakin?” tanya dia.

“Ya gimana lagi mbak. Aku bikin surat itu juga udah nyiapin diri kalo mbak gak bakal mau dateng.”

Lama menunggu, akhirnya dia membalas, “Ya udah, gak apa. Kelar aku pembekalan.”

“Maksudnya, mbak?”

“Ketemuannya kelar aku pembekalan aja.”

Seketika aku pun tersenyum senang.

Hari itu rasanya seperti memandang lukisan mimpi yang terbingkai rapih. Bagaimana tidak, di hari itu aku bertemu dengan dia, berkontak mata dengan dia, melihat senyumannya, dan yang paling penting, dia memberikan respon positif terhadap suratku. Dan itulah yang aku harapkan pada saat itu. Memang benar kata salah satu ayat yang ada di dalam Al-Qur’an, bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Tak lepas, di dalam hatiku, aku mengucap syukur.
 

Sehari sebelum bertemu, usai sholat subuh, aku membuka kembali percakapan dengan dia, membacanya, kemudian tersenyum, lalu menutupnya kembali. Beberapa waktu kemudian aku membukanya lagi, membacanya lagi, tersenyum lagi, dan menutupnya lagi. Begitu terus, terus, terus, terus, dan terus. Seakan fajar  pun ikut mentertawakan kebodohanku.

Hahaha, sepertinya aku sedang dihantui kebahagiaan saat itu.

“Hei sabtu, aku tidak sabar menunggumu.” ucapku dalam hati. Seperti anak kecil yang tak sabar menanti film kartun kesayangannya di minggu pagi.