Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Jumat, 23 Mei 2014

Sabtu Siang di Taman Perpustakaan (1)

“Hari ini ke kampus gak mbak? Ada perlu bentar.” Tulisku di BBM.

“Iya. Ntar ada kuliah jam 3.” balasnya.

“Aku tunggu di tangga kembar lantai 4. Janji gak sampe semenit.”

“Iya Dito.”

Kalimat dari dia menutup percakapan kami. Dan drama baru saja dimulai.


Harusnya mulai dari jam 2 siang, mata kuliah pertamaku berakhir dan aku bisa mulai menunggu dia setelahnya. Tapi keadaan seakan tidak akan pernah membiarkan rencana berjalan mulus. Ketika kelas baru saja berakhir, ketua kelasku memberikan kabar bahwa akan ada kelas tambahan mata kuliah yang berbeda di jam itu secara dadakan. Seketika dengan kecepatan suara, perasaan takut datang menghampiriku. 

Aku takut tidak bisa memenuhi janji itu.

Saat mata kuliah tersebut berlangsung, aku sedang duduk di bangku pojok belakang dengan perasaan gelisah. Aku memandangi suasana luar kelas dari balik jendela sambil berharap aku melihat dia lewat di kelasku, sehingga aku bisa menghampirinya. Aku merogoh tasku dan mengambil surat yang akan aku berikan ke dia, kemudian membolak-balikknya, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejaku. Berkali-kali aku melihat jam di tanganku. Semakin lama, waktu semakin mendakati angka 3.

Akhirnya waktu menunjukkan jam 3 sore. Waktunya aku untuk segera menemuinya. Aku beranjak dari bangkuku, berjalan menuju pintu kelas tanpa menghiraukan dosen yang sedang mengajar, dan aku pun keluar kelas untuk menantinya di tangga kembar yang kebetulan berdekatan dengan kelasku, ruang 409. Aku duduk di anak tangga sebelah kanan dan mulai menantinya. Surat itu masih tersimpan di dalam saku kemejaku.

Jam 3.15 sore. Dia tak juga datang menghampiriku. Dengan sangat terpaksa, aku memutuskan untuk kembali ke kelas, karena tidak mungkin juga aku meninggalkan kelas untuk waktu yang lebih lama.

Aku kembali duduk di bangku semula dengan mata menghadap lantai. Aku diam. Kemudian aku mengacak-acak rambutku, lalu aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah kurang dari semenit itu masih terlalu lama untuknya sehingga dia tidak mau datang? Ataukah aku yang kurang lama menunggunya? Entahlah, yang jelas aku sedikit kecewa sore itu.

Usai sholat maghrib, aku BBM dia. “Aku nunggu mbak loh tadi.” tulisku, dan send.

Agak lama kemudian, dia bales, “Di mana? Aku di kampus sampe maghrib, Dito.”

Langsung saja aku jawab, “Tangga kembar, lantai 4, jam 3, sesuai janji.”

“Maaf banget Dito. Tadi aku baru di kampus jam setengah 4, soalnya hujan deres di rumah.”

Aku mengambil nafas panjang sejenak, berusaha untuk menghilangkan kekecewaanku. Kemudian aku membalas, “Iya, gak apa.”

Finally, surat yang seharusnya dia terima sore itu, nyatanya masih tersimpan baik di dalam tas.

Hampir seminggu sudah surat untuknya berdiam di dalam tasku. Aku pengen surat itu segera ada di tangannya untuk dibaca. Lalu, aku mencoba BBM dia untuk mengajaknya ketemuan lagi, dan akhirnya kita pun sepakat untuk ketemuan besok, tepatnya hari selasa, jam 11 siang di tempat yang sama. Tangga kembar lantai 4.

Besoknya, tepat jam 10.30, aku berangkat dari kontrakan menuju kampus untuk menemuinya. Sengaja aku berangkat lebih awal, hanya untuk memastikan bahwa aku yang membuat janji, maka aku lah yang harus tepat waktu. Lebih baik aku yang menunggu, daripada dia yang menunggu.

Sesampainya di kampus, aku menunggu dia di tempat kami janji bertemu. Aku menunggu lama, sampai tak terasa sudah 30 menit aku duduk di anak tangga. Aku membuka hape, berharap dia memberiku kabar. Tapi ternyata, tidak ada satu pun pesan dari dia. Yang ada hanya sebuah pesan dari Randy, sahabatku. Aku buka pesan dari Randy, yang isinya:

“Mbak Gita, tolong bilangin Randy, Randy suruh bilangin Dito, aku di lab sampe nanti siang, gak ke GKB lagi. BBM sinyalnya jelek banget. Makasih mbak. Smsnya 'dia' tuh.”

Mbak Gita adalah mantan Randy, yang juga sahabat si 'dia'. Setelah aku membaca pesan tersebut, aku merasa seperti ada yang aneh di dalam tubuh. Rasanya lumayan menyakitkan. Seketika semangatku lenyap terbawa suasana.

“FUCK!” aku berteriak dalam hati. Aku mengacak-acak rambut, kemudian beranjak dari tangga kembar.

Aku berjalan mengitari kampus tanpa tujuan. Aku berjalan dengan mata yang lebih banyak menatap ke bawah. Sambil melangkahkan kaki, aku mencoba berdialog dengan Tuhan, mengadu akan kekecewaan yang aku rasakan saat itu.

Aku berharap dia menghubungiku secepatnya.

Ternyata tidak.


Pukul 3.51 sore, dia akhirnya BBM. Dia bertanya, “Dito, sudah dapet pesen dari Gita?”

"Iya dapet. Jam setengah 12.” balasku, mencoba membuat dia mengerti bahwa aku sudah menunggunya lumayan lama.

“Oalah, berarti dia lagi kuliah. Aku sms sebelum jam 11. BBM-ku gak dapet sinyal.”

“Iya, gak apa.” lagi-lagi mencoba untuk menutupi rasa kecewaku.

“Yaudah, besok-besok kalo ketemu aku langusng samperin aja, Dito.”

“Gampang mbak.” Tulisku, untuk lebih meyakinkan bahwa aku sudah melupakan kesalahannya.

Masalahnya, kita sudah jarang bertemu lagi. Aku dan dia punya jam kuliah yang berbeda. Ditambah lagi dia sudah jarang terlihat lagi di kampus.


Bersambung