Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Sabtu, 02 Maret 2013

Cerita Tentang Aku Dan Stand Up Comedy (Chapter 2)

(Lanjutan chapter 1)

Beberapa minggu kemudian, Stand Up Comedy Sidoarjo lahir dan terbentuk. Berkat komunitas ini, aku jadi bertemu dengan teman-teman baru seperti mas Dedi Aspal, Galih, Elok, Tari dan Rosyid. Kumudian ada Toyib yang ikutan gabung setelahnya. Open mic pertama diadakan di Tropiz café. Tempatnya mewah, tapi penontonya sedikit. Comic-comic pengisi acaranya berasal dari tiga kota, yaitu Surabaya, Malang, dan Sidoarjo sendiri. Dan malam itu guest star-nya adalah Topenk (saat itu dia masih jadi finalist SUCI season 2).

Penampilanku waktu itu terbilang lebih baik ketimbang sebelum-sebelumnya. Aku sedikit (sangat sedikit) terlihat makin pede di panggung. Joke yang aku bawakan juga ada beberapa yang bekerja dengan baik. Di awal penampilan pun aku berani menggunakan teknik rifting. Dan berhasil. Punchline yang aku buat dengan sedikit tambahan act out sebagai penebal punchline, juga berhasil membuat orang tertawa kencang. Semua itu berkat saran dari mas Dedi Gigis (comic Surabaya).

Mas Dedi Gigis adalah orang yang paling sering mengajarkan kepadaku dan comic-comic lainnya cara membuat joke yang baik dan benar dengan segala kesabaran yang dia miliki. Makannya, dia sering dipanggil Suhu (guru) oleh comic-comic lainnya.

Setelah giliranku tampil, ada comic dari komunitas Stand Up Comedy Malang, Arie Kriting (saat ini jadi finalist SUCI 3). Dia membuka penampilannya dengan cara me-roasting aku (istilah untuk mer-rifting sesama comic).

‘Barusan mas itu ngatain lebay anak twitter yang dikit-dikit nge-twit sambil ekspresinya marah. Kalo mau ngatain orang lebay, potong dulu poninya, mas’. Dan penonton pun tertawa. Saat itu memang poniku agak menyerupai gorden, hehe.


Selanjutnya, open mic demi open mic, aku ikutin. Hasilnya malah lebih buruk, aku makin nge-down, dan semakin malu untuk berada di atas panggung. Bahkan lebih malu ketimbang pertama kali merasakan open mic. Bit yang aku bawakan (yang katanya temen-temen lucu) terdengar jadi gak lucu karena pembawaanku yang kaku dan terlihat seperti menghafalkan. Padahal aku sudah sering dapat masukan dari comic-comic lokal Surabaya yang sudah professional, seperti mas Arif Alfiansyah (peraih Golden Ticket SUCI season 3 audisi Jakarta), mas Syahdam (opener MDB Tour Pandji di Surabaya), mas Dono (Opener 3GP Tour Ge Pamungkas di Surabaya), mas Muslim (saat ini jadi finalist SUCI 3), mas Dedi Gigis, dan mas Michael (opener Absurd Tour kemal Pahlevi di Sidoarjo).

Mas Dono pernah bilang ke aku bahwa aku terkesan cuek sama materiku sendiri. Aku membawakannya tidak dengan hati, tapi seperti menghafal. Ini yang membuat joke yang aku sampaikan tidak bekerja dengan baik. Seperti yang sudah disampaikan oleh Om Ramon Papana dalam bukunya yang berjudul ‘Kitab Suci’, ‘Materi hanyalah 10%, sisanya adalah delivery atau pembawaan materi kita di atas panggung’.

Ada juga mas Tama Randy (comic lokal Bandung, pernah mengisi acara open mic Metro TV) yang ikut ngasih aku masukan. Aku ingat saat dia memberi pujian sekaligus masukan buat aku sewaktu usai nonton acara ‘Merem Melek Tour’ Ernest Prakasa di Surabaya. Dia bilang, ‘Sebenernya joke kamu lucu juga. Aku liat loh waktu kamu open mic di UNESA. Tapi sayang, aku lihat intonasi kamu terlalu datar. Jadi gak tau bedanya set up sama punchline di mana.’ Kemudian dia memberikan contoh pembawaan dengan intonasi yang benar.

Aku juga dapet ilmu dari comic nasional, seperti mas Akbar (runner up SUCI season 1) tentang pembuatan joke dan Ge Pamungkas (juara 1 SUCI season 2) tentang cara bermain ekspresi. Kata mas Akbar, ‘Pokoknya logika yang udah orang anggep bener, bantah! Buat perfektif kamu sendiri’.
 

Tapi semua saran mereka itu terkesan gak ada gunayanya mengingat penampilanku di atas panggung yang begitu kaku dan malu-malu. Aku gak sanggup melawan rasa maluku saat berada di panggung. Setelah beberapa kali ngerasain nge-bomb, lama-kelamaan aku nyerah juga. Ternyata Stund Up Comedy itu gak gampang, butuh keberanian ekstra saat di panggung. Melawan rasa malu dan membawakan materi dengan hati.

And I know, I’m not professional about that.

Sangking traumanya dengan Stand Up Comedy, aku sampe memutuskan untuk tidak lagi kumpul dengan anak Stand Up Comedy manapun. Aku mulai membulatkan tekadku untuk keluar dari dunia Stand Up Comedy saat aku memulai kehidupanku di Malang. Sebenernya aku gak pengen meninggalkan teman-teman yang aku dapatkan saat aku gabung dengan komunitas.

Tapi, entah apa yang ada di pikiran mereka, biarpun jarang kumpul, mereka masih mengingatku dan tetep baik sama aku. Terutama mas Michael. Setiap ada show di manapun yang melibatkan komunitas Stand Up Comedy Sidoarjo, aku selalu diajak sama dia. Tanpa bayar. Aku jadi merasa gak enak sama mereka, hehe.

Yah, buat orang pemalu seperti aku ini, melawan rasa malu rasanya seperti menebang pohon yang sudah berumur ratusan tahun pake pisau. Bisa, tapi sulit sekali. Banyak yang bilang itu hanyalah urusan waktu, nanti suatu saat pasti akan terbiasa juga nyaman di atas panggung. Dan di saat aku belum bisa mencapainya, aku sudah menyerah duluan. Sedikit menyesal atas keputusan ini, tapi mau gimana lagi, hehe.


Nyesel sih, iya. Apalagi pas tiap kali aku berhasil bikin temen-temen di sekitarku tertawa, selalu aja ada yang nanya, ‘Kamu kok gak ikutan Stand Up Comedy aja, sih?’ kalimat itu yang bikin aku (jujur) sedih. Bingung juga mau jawab apa. Tapi biarlah. Tidak semua yang kita inginkan bisa tercapai. Semua tergantung kita.

Aku salut sama temanku, Roni, yang tetap konsisten dengan tujuannya menjadi seorang comic. Sekarang dia sudah berkali-kali merasakan panggung Stand Up Comedy Show dan membuat banyak orang tertawa. Sekarang aku jadi sadar, bahwa permainan act out dan ekspresi yang dimiliki Roni adalah suatu anugerah yang tidak semua orang miliki. Good work, sobat. I proud of you.

Aku seneng pernah kenal dengan comic-comic hebat seperti mereka yang sudah aku sebutkan barusan, dan aku bener-bener nyesel kehilangan mereka, hehe. Berkat mereka, aku jadi ngerti bagaimana Stand Up Comedy yang sebenernya. Terima kasih. Viva La Komtung.

1 komentar: