Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 27 Januari 2013

Teman Yang 'Hilang'

Ada yang bilang kalo sifat seseorang bisa berubah hanya dalam waktu semalam. Waktu yang singkat.

Terlalu banyak orang-orang yang pernah mampir di kehidupanku dan tiba-tiba ‘hilang’ karena beberapa dari mereka telah berubah menjadi sosok-yang-tidak-aku-harapkan setelah kita sempat lost contact dalam waktu yang cukup lama.

Premis barusan mengingatkan aku pada seseorang yang telah ‘hilang’ dari kehidupan aku.

Dia adalah seorang teman.

Teman dari dunia maya.


Berbagai cara yang dilakukan Tuhan untuk membuat seseorang dan orang lain menjadi saling kenal. Aku misalnya, yang diperkenalkan oleh Tuhan kepada seorang wanita manis yang sudah aku anggap (bisa dibilang) teman dekat. Namanya Rani. Setelah sekian lama aku berharap untuk bisa berkenalan dengannya, akhirnya Tuhan mengijinkannya juga.

Awalnya dia hanya sebatas ‘teman facebook’ yang statusnya kadang nongol, atau bahkan mondar-mandir di berandaku tanpa pernah aku menghiraukannya. Sempat aku dan dia ngobrol lewat wall to wall, tapi tidak sampai bertahan lama. Kemudian lama sekali kita tidak saling menyapa di facebook, akhirnya tibalah hari yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Di mana hari itu merupakan awal dari pertemananku dengannya.

Hari itu, pas suasana siang hari kerasa gerah banget dan membosankan. Aku menghabiskan waktuku di dalam sebuah ruangan ber-AC dengan hanya menatap layar komputer sambil facebookan. Kebetulan, siang itu, Rani juga online. Begitu tau dia sedang online, aku mencoba memberanikan diri nge-chat dia untuk sekedar minta pin Blackberry-nya. Aku sendiri bingung, kenapa waktu itu aku punya pikiran buat minta pin BB ke dia, sementara aku sendiri gak tau dia pake BB apa nggak? Tapi gak apa, cara seseorang buat basa-basi memulai suatu obrolan memang berbeda-beda.

‘Eh, boleh minta pin BB kamu gak? Hehe’ tulisku.

Dia bales, ‘Boleh’. Lalu Rani memberikan pin BB-nya ke aku. Beeruntungnya.

Setelah dia ngasih pin BB-nya ke aku, kita lanjut chatting-an. Baru sebentar aja kita chatting, dia tiba-tiba offline gitu aja. Tapi bukan berarti kita berhenti ngobrol. Obrolan kita pindah ke BBM. Dari BBM, aku bisa ngeliat display picture-nya pas dia lagi pake seragam sekolahnya. Terlihat dia sangat manis sekali. Bahkan lebih manis dari kencing manis sekalipun (apa sih cuk?).

Sangat menyenangkan hari itu. Di mana harapan lamaku untuk bisa kenal dengan dia akhirnya terwujud juga.

Kita ngobrol lumayan lama, hingga akhirnya obrolan kita terhenti saat Rani gak bales chat terakhirku. Di end chat kayaknya. Ya udah, sih, gak apa. Palingan dia bosen. Wajar.

Beberapa jam kemudian, dia nge-chat aku, ‘Maaf ya baru bales. Tadi batreiku lowbat’ tulisnya di BBM.

Loh, kok dia masih mau bales chat-ku ya? Ternyata ada ya orang macem dia yang masih mau bersikap ramah sama orang yang bahkan belum pernah dia kenal sebelumnya. Sampai aku heran dan nanya ke dia, ‘Kamu kok ramah banget sih sama aku, Ran? Padahal kita kan baru ini kenal?’

Dia bales, ‘Lha terus gimana? Masak aku harus jutek gitu? Hahaha’

Lah, iya ya?


Entah besoknya atau kapan, aku lupa, aku minta tuker-tukeran twitter ke dia, dan dikasih. Saat itu followers-nya di twitter masih dikit. Masih dua digit. Udah gitu digembok pula twitternya. Takut hilang mungkin. Sepintas aku mikir bahwa pertemanan ini berjalan sangat gampang. Beda sama cewek-cewek lainnya yang rata-rata selalu aja harus kuat mental dijutekin dulu, baru boleh akrab. Emang mau kenalan apa wajib militer?

Entah mention apa yang pertama kali aku kirim ke dia, lagi-lagi aku lupa. Dia ngebalesnya dengan candaan. Ini… peluang untuk mengakrabkan diri dengan dia sangat terbuka lebar. Atau bahkan tanpa pintu. Semenjak itu, aku lebih sering becanda dengan dia, baik itu di facebook, di twitter, ataupun di BBM. Aku ngerasa pertemananku dengan dia semakin akrab. Aku juga ngerasa kalo seolah-olah Tuhan lagi membuang berkahNya kepadaku. Betapa Tuhan Maha Jago dalam hal segalanya, terutama dalam hal menyenangkan hati hambaNya.

Hal yang bikin aku seneng salah satunya waktu dia nucapin ‘happy new year’ ke aku di twitter. Kayak gini:

Sebuah tulisan yang membuatku senyum mendadak. Magic!

Dari hari ke minggu, terus ke bulan, semakin banyak cowok-cowok yang mulai kenal dia. Ini semua karena dia mulai terlibat pada suatu perkumpulan aliran musik hardcore. Dia kalo lagi ngirim broadcast message aja selalu isinya tentang acara-acara band indie dan kadang juga promote-in pin BB temennya yang kebanyakan cowok berlabel ‘Anak Band Hardcore’. Cemburu? Nggaaak! Kita cuma temen. Emang ada ya yang cemburu karena temen?

Bisa aku prediksikan, dia bakal jadi calon anak eksis baru. Ternyata prediksiku benar. Aku minder kalo harus berteman dengan cewek yang eksis, apalagi dikalangan cowok berlabel ‘Anak Band hardcore’. Apakah ini semacam kelainan, teman-teman? Aku rasa… nggak juga. Aku ngerasa hal ini adalah sifat alami manusia.

Aku dan dia lama nggak ngobrol, kemudian dia akhirnya ngirim mention ke aku seperti ini:

Lagi-lagi magic. Aku senyum.

Meskipun kita tinggal di kota yang sama, tapi kita jarang ketemu. Kita cuma bertemu sekali, setelah berkali-kali kita hampir secara gak sengaja bertemu. Ceritanya waktu itu aku lagi ngumpul bareng anak-anak komunitas Stand Up Comedy Sidoarjo di cafĂ© Hore. Aku ngeliat ada cewek pake kaos item, bawahan celana jeans pendek selutut dan sepatu yang aku lupa merknya apaan (eh, pake sepatu apa sandal ya?). Cewek itu lagi memesan sesuatu di bar. Aku ngeliatin dia dari belakang badannya. Di belakang kaos yang dia pake, terdapat sebuah tulisan nyaris full print yang menggunakan font ala hardcore. ‘Anak ini… kok kayaknya aku pernah ngeliat dia. Tapi di mana ya?’ kataku dalam hati.

Selesai memesan sesuatu di bar, cewek itu balik badan, kemudian dia berjalan menuju tempat duduknya di luar. Saat cewek itu berjalan menuju tempat duduknya, aku langsung inget kalo dia itu Rani. Spontan aja aku panggil namanya. ‘Rani!’ kataku dengan suara agak pelan. Cweek itu berhenti dan noleh ke arahku. Ternyata itu beneran Rani. Aku senyum. Rani kebingungan.

‘Ardhito?’ kata Rani. Aku memmbalasnya dengan melambaikan tangan kananku saja. Dia lalu tersenyum, setelah itu dia kembali berjalan menuju tempat duduknya. Terlihat di tempat duduknya, terdapat seorang cowok yang juga memakai kaos berwarna hitam. Siapa cowok itu? Gak tau. Mungkin pacarnya atau hanya teman biasa. Yang pasti bukan bapaknya. Kaos hitam apa yang dia pake? Aku juga gak tau, mungkin itu kaos partai.


Aku kira semenjak pertemuan itu, kita gak pernah ngobrol lagi. Ternyata enggak, dia masih menyapaku di twitter. Aku masih inget dulu followers-nya di twitter masih dua digit. Tapi nambah terus, dan akhirnya jadi tiga digit. Banyak yang pada minta follow back ke dia. Hebat! Sementara twitterku? Banyak banget yang pada mention, ‘Block aku dong kakak!’


Balik lagi. Sifat seseorang bisa berubah dalam waktu semalam. Semua orang pasti mengalami perubahan. Sesekali aku menyesali perubahannya. Tapi sudahlah, itu kan hidupnya. Ngapain juga aku yang nyesel? Lagipula kita hanya sebatas teman ‘dunia maya’.


Rani bukanlah nama sebenarnya. Bukan juga nama bapaknya. Mungkin salah satu diantara kalian yang lagi ngebaca tulisan ini adalah orang yang aku maksud. Siapa tau aja, hehe.