Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Minggu, 28 Oktober 2012

Namanya Annisa

Seperti postingan sebelumnya, tulisan ini menceritakan tentang seorang cewek. Seseorang yang saat ini sedang menguji hatiku. Kecil, manis, dan sederhana. Namanya Annisa. Entah huruf ‘N’-nya satu atau dua.

Banyak orang menganggap jatuh cinta itu anugerah. Tapi bagiku, jatuh cinta itu lebih nyebelin daripada disuruh nyium ketek banci. Tapi realitanya aku saat ini sedang jatuh cinta. Aku gak ngerti, apa definisi yang pas tentang cinta? Karena sangat sulit buat aku men-definisi-kan sesuatu yang sudah menyangkut tentang rasa (tapi aku bisa men-definisi-kan, rasanya gula itu manis. gak lucu ya? emang gak lagi ngelawak kok).


Annisa itu orangnya pendiem banget. Tapi nggak dingin seperti Echa. Sangking pendiemnya, sampe-sampe pernah Annisa sekali ngomong, langsung jadi headline news koran Jawa Pos. Aku gak habis pikir, kenapa kok bisa jadi se-pendiem gitu ya? Babi yang suaranya jelek aja mau bersuara, kenapa dia nggak?

Anyway. Tapi justru pendiem itulah yang bikin aku (katakanlah) kagum sama dia. Disaat kebanyakan cewek kalo ngumpul itu berisik, dia malah diem dan gak banyak omong. Menurut kacamataku, Annisa itu berbeda banget. Pokoknya beda deh dari kuli bangunan manapun. Dan sepertinya aku harus berterima kasih sama Ivan, karena dialah orang pertama yang membuatku tau sosok Annisa. Boleh jadi kalo nggak ada Ivan, bagiku Annisa hanyalah sebuah nama yang terpasang di kolom absen kelas. Yah, aku orangnya emang agak apatis gitu.

Kebetulan, aku dan Annisa pernah satu kelompok di salah satu mata kuliah kami. Satu kelompok juga sama Echa. Saat itu aku, Annisa, Echa dan anggota kelompok yang lain lagi kerja kelompok di kantin ICT UMM. Aku mencoba untuk stay cool di depan kedua bidadari tersebut (Annisa dan Echa). Tapi, dibalik sikap (sok) stay cool-ku itu, di telingaku seperti ada bisikan, ‘Gombalin Annisa, Dit! Ayo, gombalin dia!’ dan bisikan itu pun suaranya makin mengeras, ‘Woy! Cepetan begok, hamilin dia! Eh, maksudku gombalin dia!!!’

Setelah aku ketahui, ternyata itu adalah suara bisikan cleaning service yang kebetulan lagi ngepel aspal.

Nah, dari situlah, insting menggombalku yang-aku-sendiri-gak-tau-kapan-pertama-kali-muncul mulai bekerja. Awal mulanya, Annisa saat itu sedang serius membaca buku. Diam-diam Humada sedang memperhatikan tangan Annisa. ‘Loh, Nis,’ kata Humada dengan tampang cabulnya (ditambah sebuah cairan yang keluar dari hidungnya). ‘Tangan kamu kok berbulu, sih? Manis-manis kok tangannya berbulu’ lanjutnya.

Eh, iya loh’ kataku menambahkan. ‘Masak manis-manis kok berbulu, sih, Nis? Harusnya kamu itu, kan bersayap’

Annisa yang mendengar perkataanku langsung bingung, ‘Hah? Maksudnya?’

Shit! Ternyata Annisa gak ngerti maksud dari perkataanku barusan.

Humada yang saat itu memperhatikan pun ketawa. ‘Kamu itu kalo mau nggombal mbok ya liat situasi kondisinya dulu gitu loh. Wong Annisa belum siap di gombalin, kok ya kamu main serobot aja’ kata Humada. Dan masih dengan tampang cabulnya.

Aduh, Nis. Maksud aku bersayap. Ber-sa-yap.’ Kataku sambil menggerakan kedua tangaku yang sedang berusaha mem-visualisasi-kan bentuk sayap di punggung. ‘Masak kamu gak tau, sih, Nis?’

Oh...’ respond Annisa, sambil ketawa kecil. Lalu Annisa kembali membaca buku.

Rasanya waktu itu pengen banget naik angkot, lalu turun di terminal, kemudian bayar angkotnya, terus teriak ke supirnya, ‘Fuck!’ keras-keras. Berkali-kali aku berusaha nggombalin Annisa, tapi hasilnya sama aja kayak tadi. Gak cuma waktu itu saja, dikesempatan lainnya juga sama. Yang jadi pertanyaanku, sebenernya gombalanku yang kurang woles apa emang dasar Annisa-nya aja yang IQ-nya ngesot?

Tapi aku gak semudah itu menyerah. Dan akhirnya, dari sekian banyak gombalan-gombalan yang gagal, ternyata ada satu gombalan yang bekerja dengan baik. Dan ini datangnya tiba-tiba, alias gak disengaja. Awalnya, waktu di kelas, Leo manggil aku dari kejauhan. Aku noleh. Kemudian Leo seperti membicarakan sesuatu yang sakral kepadaku. Tapi sayangnya, aku gak kedengeran.

Apaan, Leo? Gak kedengeran!’ kataku. Leo pun mengulang kembali perkataannya sekali lagi. Tapi tetep aja, aku gak kedengeran. Aku yang agak frustasi, langsung manggil Annisa yang kebetulan duduk di depanku. ‘Eh, Annisa, dipanggil Leo tuh!’

Annisa noleh ke arah Leo. ‘Apaan Leo?’ tanya Annisa kepada Leo.

Dari kejauhan, Leo menjawab, ‘Eh, bukan, kok. Bukan kamu, tapi Dito’

Yeee, dasar Nobita. Leo nggak manggil aku gitu loh!’

Aku jawab dengan santai, ‘Enggak, tadi si Leo tuh nanya ke aku, siapa yang bakal jadi jodohku ntar. Ya akhirnya kamu yang aku panggil. Siapa lagi?’

Annisa ketawa sambil memukul kecil tanganku. Kemudian dia berbalik badan menghadap ke depan. Aku puas. Nggak nyangka, ternyata dengan gombalan sesederhana itu justru yang malah ngena.

Sangking sulitnya Annisa buat digombalin, sampe-sampe aku jadi gak enak sendiri kalo mau nggombalin dia. Begitu aku mau nggombalin dia, seperti ada bisikan di telingaku, ‘Ngaps?’ gitu katanya. Serem banget.

Aku pernah ngomong ke Humada, Rio, dan Fajar sewaktu kita lagi ada di kosnya Rio. ‘Misal nanti kalo aku udah di surga, terus ada 1000 bidadari datang menghampiriku, aku pengen bilang ke Tuhan, “Tuhan, aku mohon Kau bawakan juga Annisa ke sini. Biar dia saja yang menemaniku di sini”’

Eh, cieee...’ kata Humada. Tentu, masih dengan tampang cabulnya. ‘Ngomong-ngomong, selama ini kamu pernah mimpi tentang Annisa nggak?’

Aku gak mau mimpi tentang dia’ jawabku. ‘Kalo pun aku ngimpiin dia, aku bakal berusaha cepet-cepet bangun.’

Loh? Kenapa?’ tanya Humada, heran.

Aku gak mau Annisa cuma sebatas mimpi. Aku pengen dia itu nyata di kehidupan aku’

Rio langsung memberikan respon, ‘Wih, kata-katanya!’

Yah, gitulah, Rio kalo orang lagi jatuh cinta. Mendadak puitis’ jawabku mantap.


Sungguh, banyak cara Allah swt untuk membahagiakan hambaNya. Seperti saat Allah mengijinkan aku melihat Annisa tersenyum. Aku gak tau, kenapa bahagiaku bisa sesederhana itu? Aku gak yakin kalo ini yang namanya cinta. Tapi kalo bukan cinta, lha terus apa?


Yang kiri namanya Echa, kalo yang kanan namanya Annisa. Ini foto sewaktu kita lagi kerja kelompok