Mohon perhatian! Kepada pengunjung Blog ini, perlu saya beritahukan: bahwa setiap isi dari tulisan-tulisan di dalam Blog ini adalah hasil dari muntahan otak saya yang emang agak sedikit tidak wajar. Apabila ada ucapan atau kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk dibaca, dikonsumsi, atau di ucapkan kembali mohon harap maklum. Sekali lagi, HARAP MAKLUM! Jika kalian tertarik pada Blog ini, saya persilahkan kalian untuk memg-klik tombol follow. Terima kasih.

Rabu, 12 September 2012

Cinta Main-Main

Hari minggu kemaren, aku baru aja selesai ospek kuliah.

Banyak banget cerita yang aku dapet selama aku ospek. Terutama cerita cinta ‘main-main’ antara aku dan Rika. Singkat cerita, Rika itu salah satu temen kelompokku sewaktu ospek kemaren. Dari segi fisik, dia anaknya putih, mancung dan cantik. Sementara dari sifatnya, dia anaknya pede, dan juga agak lebay. Ralat, sangat lebay.

Pas perkenalan diri masing-masing anak, dia yang paling bersemangat dari yang lainnya. Rika juga sangat aktif ngajak ngobrol teman satu kelompoknya. Sementara aku, gak seagresif dia, dikarenakan aku masih punya rasa malu. Beda sama Rika yang mungkin urat malunya udah dirombeng sejak lahir.

‘Masnya asalnya dari mana, mas?’ tanya Rika ke Katrol, temen kelompok yang saat itu duduk di sebelahku.

‘Dari Jombang, mbak’ jawab Katrol. ‘Mbak sendiri?’

‘Aku asli Malang mas. Rumahku di Singosari, tapi aku ngekos di deket-deket sini’

Aku yang daritadi dengerin perbincangan mereka, langsung mencoba ikutan ngobrol. ‘Mm, mbak,’ kataku. Rika noleh ke arahku. ‘Saya juga nunggu ditanyain loh sama mbak’

‘Oh, masnya juga minta ditanya toh? Daritadi diem aja sih’ jawab Rika. Katrol ketawa. ‘Asli mana mas?’

‘Saya asli Surabaya, mbak. Tapi tinggalnya di Sidoarjo’ jawabku dengan sedikit malu melihat wajahnya.

‘Oh gitu? Dulu SMA mana mas?’

‘Aku SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, mbak’

Setelah itu kita pun ngobrol lebih lanjut lagi.

Aku mulai berani bicara saat kelompok kita lagi mbahas tentang tugas kelompok. Bukannya bahas tugas, tapi aku malah becanda terus. Disaat itulah, aku bisa membuat mereka tertawa dan merasa nyaman berteman denganku. Termasuk Rika. Pas kita foto bareng satu kelompok aja, tiba-tiba Rika ngomong ke aku, ‘Eh, kita foto berdua aja, yuk’

Aku pun menolak, karena aku gak bisa secepat itu akrab sama cewek. Apalagi foto bareng seorang Rika. Gara-gara itu, aku jadi suka ngomongin Rika ke Katrol.

Karena sepanjang praospek aku dan Katrol sering ngomongin Rika, otomatis cuma Katrol aja yang tau kalo aku suka sama Rika. Aku berharap Katrol merahasiakan hal ini, tapi ternyata dia berkhianat. Dia ngasih tau semuanya ke Rika sewaktu kita ngerjain tugas ospek buat besok. Rika akhirnya tau aku suka dia. Aku jadi salah tingkah. Untung gak salah urat (apa sih?).

Besoknya, pas ospek hari pertama, Rika berubah. Dia jadi suka nggodain aku. Sesekali dia melambaikan tangannya kearahku sambil manggil-manggil namaku. Iya, dia nggodain aku kayak lagi manggil ojek.

Selama ospek hari pertama berlangsung, Rika terus nggodain aku. Awalnya aku cuek. Tapi pas ospek hari kedua, aku mulai menanggapi godaannya itu. Aku berani membalas lambaian tangannya itu dengan cara melambaikan tanganku ke arahnya. Sesekali aku manggil namanya yang kemudian dia pun menjawab ‘Iya’ dengan raut wajah yang sangat manis. Ini yang bikin hatiku berbunga-bunga. Tapi aku mencoba tetap bersikap cool (kedinginan).

Di ospek hari ketiga, aku lebih berani lagi. Aku mulai memberanikan diri mengatakan kata ‘Love you’ ke Rika. Rika pun menjawab, ‘Love you too’. Ini semua bikin aku terjebak ke dalam perasaan yang lebih dalam lagi. Biarpun ini cuma main-main, tapi aku menikmatinya. Meski hati kecilku sebenernya menyesalinya.

Ditengah-tengah acara, seorang panitia tiba-tiba berkata, ‘Disini ada yang udah cinlok belum?’. Semua peserta ospek fakultas Psikologi langsung ricuh. Suasana saat itu gak jauh beda sama suasana kantin anak SMA.

Gak lama kemudian, dari kelompok paling belakang sendiri, sepasang cowok dan cewek memberanikan diri maju ke depan. Keberanian mereka untuk maju kedepan membuat peserta ospek makin ricuh. Sekarang, suasananya gak jauh beda sama suasana kantin anak SMA yang lagi kebakaran.

‘Cieeeeee!!!’ teriak semua peserta ospek kepada sepasang kekasih tersebut.

Rika nantangin aku, ‘Dit, kalo kamu berani, ayo kita maju berdua. Berani gak?’. Sebagian temen-temen satu kelompok ikut dukung kita buat maju ke depan. Tapi sayang, aku gak seberani itu buat naik ke panggung. Aku gak bisa bayangin gimana reaksi semua peserta ospek dan juga panitia pas ngeliat ada seorang putri yang cantik maju ke panggung bareng seorang mantan banci salon yang ganti profesi jadi supir taksi, tapi tetep banci?

Kisah cinta mainan ini gak berjalan indah seterusnya. Di hari terakhir ospek, kisah cinta ‘main-main’-ku sama Rika berakhir. Berawal dari surat cinta yang aku bikin buat kak Winda, panitia ospek yang jadi idola cowok-cowok peserta ospek.

Surat cinta itu aku bikin karena emang panitia ngasih tugas ke seluruh peserta ospek untuk bikin surat cinta buat panitia ospek. Pas semuanya udah ngumpulin surat cintanya, aku ketinggalan. Akhirnya surat itu gak aku kumpulin, dan aku kasih ke Rika aja. Surat itu kemudian dibaca sama Rika dan temen cewek satu kelompok lainnya. Setelah mereka baca, Rika maju kedepan dan ngasih surat itu ke panitia tanpa sepengetahuanku. Rika juga nyuruh panitia buat bacain surat tadi. Di depan seluruh peserta ospek.

Pas surat cintaku dibacain, semuanya bersorak. Sesekali mereka ketawa. Pas surat cinta udah dibacain, Rika sok-sokan marah sama aku. Aku juga sok-sokan ngebujuk dia biar gak marah lagi.

‘Aku masih sayang sama kamu kok, Rik’ kataku ke Rika.

Tapi Rika tetep sok-sokan marah. Dia sekarang deket sama Atur, salah satu temen kelompok kita juga. Dari cara bicaranya, Atur anaknya agak melambai. Entah kenapa Rika mau aja sama dia. Rika udah gak mau lagi diajakin foto berdua. Maunya bertiga, sama Atur. Aku langsung cemburu. Baru kali ini aku cemburu sama seorang joki three in one.

‘Kamu kalo berani deketin Rika, jangan harap kamu bisa buang air besar lagi, Tur!’ kataku ke Atur, dengan nada mengancam.


Aku heran. Meski kisah cinta ini cuma main-main, tapi gak tau kenapa aku bisa ngerasain cemburu dan sakit hati? Curang! Padahal ini cuma main-main, tapi rasanya kok beneran? Emang iya, ini semua Rika yang memulai, tapi seharusnya aku gak meladeni semua itu. Mungkin bener kata orang: cinta emang bukan buat main-main.

Bermain cinta itu logikanya sama aja kayak kita lagi main petak umpet di tengah hutan.